Veteran yang Dilupakan


Aku terpaku melihat jumlah mereka di atas kapal perusahaan. Kapal kayu tua itu berkali-kali teriak kencang bertanda keberangkatan. Segerombolan orang nampak tergesa-gesa berlarian di tengah lapang agar mereka tak tertinggal. Aku dan almamaterku telah siap di atas kapal. Begitu pula teman-teman yang telah duduk rapi di kepala kapal. Minggu, 17 Agustus 2014 adalah hari yang penuh kenangan. Dimana nusantara bersatu merayakan kemerdekaan.

Kapal kami berlabuh ke Yellu terlebih dahulu. Menjemput masyarakat yang juga bersama-sama merayakan kemerdekaan Indonesia ke-69. Ombak laut keberangkatan tak lagi ganas pagi itu. Dengan tenangnya kapal bermuatan ratusan orang mengantar kami sampai ke tujuan. Nusantara telah diwakili oleh sekumpulan orang yang berasal dari daerah yang yang wajah-wajahnya sudah banyak ku kenal. Sabang, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua telah berkumpul dalam satu waktu yang bersamaan di lapangan Harapan Jaya. Kampung yang letaknya tak jauh dari Fafanlap. Kampung indah dengan pemandangan pantai yang eksotis juga ikan hias seperti Napoleon, bintang laut, dan ikan lain yang aku tak kenal namanya.

Barisan pasukan upacara dengan seragam berbeda-beda telah nampak dari kejauhan dermaga Harapan Jaya. Tak ada riuh peserta upacara selain ketenangan dan suara checksound dari panitia. Aku berjalan bersama beberapa veteran Fafanlap yang masih dengan gagahnya mengenakan pakaian pejuang di badannya. Sepatunya yang berdebu dan hilang warna tetap bangga dikenakannya. Wajahnya yang keriput dimakan usia tetap memancarkan semangat pemuda. Sikap badan serta tatapan tajamnya memperlihatkan kewibawaannya. Langkah-langkahnya tak lagi diseret-seret. Lekuk wajahnya dikembalikan sempurna. Kepalanya yang menunduk sedikit diangkatnya. Genggaman tangannya seakan tak mau kalah dengan seorang pegulat kelas berat. Sesekali mereka tersenyum bahagia melihat anak-anak kecil yang berlarian mengibarkan bendera. Sepintas bayanganku melewat. Tentang kakekku yang juga seorang veteran perlawanan Belanda. Bekas butir peluru masih membekas di dadanya hingga ajal menjemputnya. Tak banyak lagi yang mengingat jasa-jasanya. Anak cucunya lebih mengagung-agungkan pahlawan kesiangan dalam televisi yang tak jelas asal-usulnya. Para veteran dipandang tak spesial nan istimewa. Namanya juga tak tertulis dalam buku sejarah yang banyak kita pelajari. Tak satu pun juga guru yang bercerita tentangnya. Setidaknya, aku tetap mengagumi para veteran dengan perjuangannya. Sampai ia bercerita, tentang perjuangan tetes darah dan keringat di Papua. Dimana aku tak pernah dapatkan saat guruku sedang bercerita.

Aku berada pada barisan paduan suara bersama adik-adik binaan yang dilatih suara. Dengan suasana khidmat kami bernyanyi. Mengheningkan Cipta, 17 Agustus dan Bagimu Negeri adalah beberapa lagu refleksi kemerdekaan yang dinyanyikan. Merah Putih terus berkibar dan ditarik pasukan kibar bendera dengan gagahnya. Teks proklamasi dibacakan diiringi tembakan laras panjang yang tak lagi kuhitung jumlah letupan pelurunya. Aku dalam barisan hanya bisa terkagum dengan model upacara yang jauh daripada dugaan di awal. Tak ada yang menyangka upacara dapat berjalan seperti sempurna. Begitu pula seorang perangkat desa yang merasa terharu menyaksikan upacara meskipun putrinya berada pada belakang barisan pengibar bendera.




Pasca upacara, kembali aku melirik barisan mereka yang mengenakan pakaian hijau tua. Nampak satu persatu wajah-wajah mereka mengembangkan seyuman. Semuanya saling bertatapan. Entah apa yang dibicarakan, nampaknya ada kesan yang membanggakan dari upacara kemerdekaan. Seperti apa yang kukatakan di awal, seorang veteran tak dipandang spesial bagi orang kebanyakan. Aku pun mendekatinya, mencoba mengajaknya bicara di bawah tenda kebesaran. Bapak Hunang Loji dan Bapak Abdul Ajid. Begitu yang kutahu namanya. Keduanya adalah veteran Fafanlap yang masih tersisa ditinggal sekawanan pahlawan di masanya. Topi baretnya yang dikenakan tak dapat ku kenali pangkatnya.

Bapak Hunang Loji, di usianya sekarang 75 tahun bercerita tentang kebanggaannya menyaksikan pasukan pengibar bendera yang pesertanya juga diambil dari kampungnya, Fafanlap. Samar dan lirih suaranya tak lagi mampu kurekam dan kucatat. Gemerutu giginya yang tinggal beberapa nampak menggambarkan ketegasan di masa mudanya. Sedangkan Bapak Abdul Ajid, veteran berusia 70 tahun bercerita tentang Papua Barat. Pelan-pelan aku dekatkan pendengarannku di wajahnya. "Kita berani, Indonesia bisa mengalahkan Belanda dengan merebut senjata-senjata mereka", ucapnya. Ya, aku tak lagi heran dengan model-model perlawanan veteran lama merebut kemerdekaan. Ia pun menambahkan bahwa cukup singkat untuk melumpuhkan Belanda, hanya kurang dari satu bulan. Panah dan tombak menjadi modal kedua setelah tekad dan perjuangannya. Tatapannya yang tajam membuatku semakin mantap. Ia pun menceritakan tentang beberapa peninggalan Belanda yang dapat disaksikan langsung di kampungnya, Fafanlap. Sesekali ia bercerita di luar pertanyaanku sampai aku sadar bahwa beberapa orang telah memenuhi lokasi sarapan. Bergegas aku sudahi percakapan.

Tak panjang aku bercerita dengan kedua veteran Fafanlap yang baru kukenal. Mereka menunjukkan baret dan nama yang melekat di pakaiannya. Kacamatanya dinaikkan menggunakan alis tebalnya. Kucatat nama mereka dalam buku sejarah baru yang tak pernah sekalipun menyebut nama mereka. Hunang Loji dan Abdul Ajid, adalah veteran Fafanlap yang dilupakan jasa-jasanya. 

Minggu, 07 September 2014
Posted by hannif andy al anshori

Kawan, Singgahlah ke Kampungku



kawan..
Raja Ampat berada pada jantung segitiga karang dunia (coral triangle) yang merupakan pusat keanekaragaman hayati laut tropis terkaya di dunia saat ini. Memiliki 465 jenis karang (jumlah ini hampir separuh dari jumlah karang di dunia). Juga memiliki kanekaragam jenis ikan yang bernilai tinggi dan menjadi daya tarik wisata.

kawan...
Raja Ampat merupakan pulau yang terajut dari lebih 620 pulau yang terdiri dari empat pulau besar, yakni pulau Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool yang terletak di barat laut dari ujung Provinsi Papua Barat. Jadi, bisa kau bayangkan betapa kayanya kekayaan alam yang dimiliki Raja Ampat.

kawan...
Saat ini Raja Ampat memiliki luas wilayah sekitar 882.953 km2 dengan luas daratan 46.000 km2 yang melengkapi 17 distrik (kecamatan) dan membawahi 97 kampung (desa).

kawan...
Kampungku memanjakan bagi siapa saja yang mendengar dan melihatnya. Ya, Raja Ampat. Semuanya dijadikan ajang eksis di sosial media. Dari jauh memang nampak menggoda. Tapi, maukah kau aku ceritakan bagaimana aku menghadapi kehidupan ?

Pendidikan adalah bagian dari pembangunan dan menjadi hak kewajiban setiap warga negara. Tapi bagaimanapun aku tak akan betah bersekolah dengan kondisi gedung sekolah yang mulai rapuh. Genteng bocor serta meja kursi yang telah patah. Bagaimana aku bisa maju dengan kondisi keterbatasan guru yang mengajar. Sedangkan aku butuh bersandar pada guru-guru tentang apa yang aku tak tahu.

kawan...
Betapa sulitnya aku di sini belajar. Penerangan yang tak sempurna sampai masuk ke kampung hanya mengandalkan bulan terang agar aku dapat membaca di lapangan. Pelita yang juga tak dicukupi dengan ketersediaan minyak hanya mampu menerangi sepetak ruang agar asap dapur terus mengepul. Ya.. ibuku memasak untukku.

kawan...
Berhari-hari tak ada yang menasehatiku. Aku malu, jika banyak di antara teman-temanku yang dimanja dan disayang. Sedangkan aku ? sesekali dipanggil dengan sebutan 'binatang' oleh orang-orang yang ku sayang. Sesekali aku di pukul dan di lempar. Masihkah ada di luar sana yang mau memanggilku sayang ?

kawan...
Angin yang kencang tak selalu bersahabat dengan perahu yang biasa aku gunakan. Yang kubutuhkan adalah kapal besar yang mampu menahan segala macam gelombang. Ribuan mil aku lewati untuk bisa mengakses segala kebutuhan. Dan aku tertahan. Sepekan aku harus menanggung ketinggalan pelajaran yang telah diajarkan.

kawan...
Ketika aku sakit, tak ada yang sehebat Ayah Ibuku. Sangat pahit bagiku ketika aku mendengar teman sebayaku yang telah tiada karena sudah tak tertolong lagi nyawanya. Biaya pengobatan yang mahal serta transportasi yang sangat sulit mengharuskan mereka merawat yang terluka di gubuk tua. Berapa lama aku harus menunggu? menahan sakit berhari-hari tanpa ada dokter disampingku. Aku lelah menunggu kapal di hari sabtu. Dengan ribuan mil yang harus kutempuh memakan waktu. Maka jangan salahkan aku jika aku tak pandai menjaga tubuhku. Jangan salahkan Ayah Ibuku ketika mereka tak lagi dapat merawat lukaku.

kawan...
Mungkin aku dan teman-temanku terlihat kusam di matamu. Bukan aku tak mau membasahi dan seindah penampilanmu. Bukan aku tak sanggup menghias diriku sepertimu. Tapi kau tahu betapa sulitnya aku mendapatkan air di sini? Aku masih bersyukur ibuku selalu memasak air untukku.

kawan...
Rumahku memang tak seindah rumahmu yang di halamannya dapat ku petik setangkai mawar dan melati. Halaman rumahku yang beralas tanah dan laut memang tak seluas milikmu yang di sana dapat ku pinta untuk dijadikan taman. Sekitarnya hanyalah lautan dengan pemandangan sampah dan kotoran yang berserakan. Aku tak lagi melihat dengan jelas ikan-ikan kecil yang berenang. Aku tak dapat lagi bercerita pada adik-adiku tentang keindahan lautan.


kawan...

Rumahku juga mungkin tak senyaman rumahmu. Cukuplah daun tikar menjadi alas kita bersama. Bercerita hingga tertidur di atasnya. 

Ahh... kau sudah tahu semuanya bukan ? Maukah kau berbagi denganku ? Tentang keindahan di luar sana. Aku tak pernah memanggilmu, aku pun tak pandai mengirim surat untukmu. Tapi, relakah kau singgah ke kampungku ? Tak perlu untuk menjadi pahlawan atau orang dermawan. Aku hanya ingin kau singgah ke kampungku. Memang, kontras sekali terlihat bagiku. Aku dengan keadaanku, dan kau dengan keadaanmu.

"Cerita ini dikembangkan pascamengajar selama dua hari di SMP Fafanlap. Bersama Karmila dan Nazmi dengan keadaan sebenarnya”.
Sabtu, 06 September 2014
Posted by hannif andy al anshori

Kampung Adat itu Kampung Naga

Indonesia, negara dengan gugusan pulau-pulaunya, ribuan keanekaragaman budayanya, ratusan etniknya, dan jutaan bentang alamnya. Entah berapa lama lagi kita bisa menikmati semua karunia itu. Sampai dimanakah batas waktu kita untuk bisa mendalami dan melihat jelas keanekaragaman budaya negeri tercinta ini? Tanpa kita sadari, modernisasi telah menjajah nilai asli kehidupan kita. Gedung-gedung bertingkat nampak wajar, pakaian-pakaian minim dibiarkan, bahkan gaya hidup kota besar mengakar dimana-mana. Hanya tersisa segelintir yang masih memegang teguh pesan moral sang nenek moyang. Hidup tanpa mengikuti perkembangan jaman sama sekali tak mengurangi kesejahteraan mereka.

Sebutlah Kampung Naga, sebuah perkampungan yang terletak di wilayah Desa Neglasari, Tasikmalaya, Jawa Barat. Lokasinya tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya. Kampung Naga berada di lembah yang subur yang dibatasi oleh hutan keramat dan dikelilingi oleh sawah-sawah penduduk. Di sebelah utara dan timur dibatasi oleh sungai Ci Wulan yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray.

Terima kasih Kampung Naga, engkau telah mengajarkan banyak hal. Tetap seperti ini sampai esok kami kembali lagi bersama anak cucu kami. Karena pengetahuan, nilai dan moral budaya, serta kelestarian adat dan alam adalah harta yang tak pernah usang di Kampung Naga.

Baca selengkapnya di : http://insanwisata.com/kampung-naga-mengajarkan-banyak-hal-kehidupan/

Wisatawan dan Photographer sedang sibuk mengabadikan gambar

Arsitek di Kampung Naga
Toilet Ramah Lingkungan/ Jamban

Aktivitas Wanita di Kampung Naga

Senin, 16 Desember 2013
Posted by hannif andy al anshori
Tag :

Inventarisasi Perpustakaan Pribadi





1.     MISYKAT. Refleksi tentang Westernsasi, Liberalisasi, dan Islam. (Hamid Fahmy Zarkasy)
2.     Fatih 1453. (Felix Y. Siaw)
3.     Membentangkan Ketakutan. (Shofwan Al Banna)
4.     Orientalis dan Diabolisme Pemikiran (Dr. Syamsudin Arif)
5.     The Greatness of Al – Andalus ( David Levering Lewis)
6.     Aku Ingat Dirimu Saat Aku Lupa Tuhanku (Dr. Anwar Wardah)
7.     Anda Bertanya Islam Menjawab (Prof. Dr. M. Mutawalli asy-Sya’rawi)
8.     Sirah Nabawiyah (Syeikh Shafiyyurahman Al- Mubarakfury)
9.     Benang Tipis Halal dan Haram (Imam Al Ghazali)
10.   Tarbiyah Ruhiyah (Sa’id Hawwa)
11.   Negara Pancasila, Jalan Kemaslahatan Berbangsa (As’ad Said Ali)
12.   Saksikan Aku Seorang Muslim ( Salim A. Fillah)
13.   Dalam Dekapan Ukhuwah (Salim A. Fillah)
14.   Ketika Rasul Bangun Kesiangan (Muslich Taman)
15.   Bercermin Pada Hatimu (DH Devita)
16.   Agar Bidadari Cemburu Padamu (Salim A. Fillah)
17.   Ketika Cinta Dalam Naungan Ilahi (Imam Musbikin)
18.   Madrasah Jiwa Perindu Surga (Udik Abdullah)
19.   Lets Go, Muslim Muda Berani Beda (Fadlan Al Ikhwani)
20.   The Secret The Power 1 (Rhonda Byne)
21.   The Secret The Power 2 (Rhonda Byne)
22.   Buktikan Cintamu (Muhammad Nazhif Masykur)
23.   Gue Never Die (Salim A. Fillah)
24.   Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan (Salim A. Fillah)
25.   Mentoring Fun (Wida az-Zahidda)
26.   Fiqih Sunnah (Sayyid Sabiq)
27.   Aku Anak Emas (Arya Sandhiyudha AS)
28.   Rahasia Setan yang Paling Dalam (Syaikh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi)
29.   Ihtisar Hadits Shahih Bukhari (Idrus H. Alkaf)
30.   Ilmu Nahwu (A. Zakaria)
31.   Panorama 1453 (Tarih Muzesi)
32.   Budaya Ilmu, Satu Penjelasan (Wan Mohd Nor Wan Daud)
33.   As Syakur ( Abdullah Gymnastiar)
34.   Al Badi’ (Abdullah Gymnastiar)
35.   Al Wahhab (Abdullah Gymnastiar)
36.   Ar Rasyid (Abdullah Gymnastiar)
37.   Keajaiban Al Qur’an (Anak Baik – Anomali)
38.   Dosa- Dosa yang Dianggap Biasa (Muhammad Shalih Al Munajjid)
39.   Kisah Bapak dan Anak dalam Al Qur’an (Adi Musthafa Abdul Halim)
40.   Ganti Hati Tantangan Menjadi Menteri (Dahlan Iskan)
41.   Janji Para Lelaki (Saiful Ardi Imam)
42.   Bidadari Bidadari Surga (Tere Liye)
43.   Happy Ending Full Barokah (Solikhin Abu Izzudin)
44.   Dan Bidadari pun Mencintaimu (Ali Imron El Shirazy)
45.   9 Summer 10 Autumns (Iwan Setyawan)
46.   Ibuk, (Iwan Setyawan)
47.   New Quantum Tarbiyah (Solikhin Abu Izzudin)
48.   SUWUNG (Hendra Purnama)
49.   Titik Nol , Makna Sebuah Perjalanan (Agustinus Wibowo)
50.   Panduan Ramadhan
51.   Kembali ! Ke Jati Diri Bangsa (Djon Pakan Lalanlangi)
52.   Negeri 5 Menara (A. Fuadi)
53.   Ranah 3 Warna (A. Fuadi)
54.   Rantau 1 Muara (A. Fuadi)
55.   2 (Donny Dhirgantoro)
56.   5 cm. (Donny Dhirgantoro)
57.   Orang Miskin Dilarang Sekolah
58.   Sacred Travels (Meera Lester)
59.   Negeri Para Bedebah (Tere Liye)
60.   Frank Costello, Prime Minister of the Underworld (George Wolf with Joseph Dimona)
61.   Ilmu Retorika dan Mengguncang Dunia (Dwi Condro)

Update 2013 - 2014 
62. AMBA (Laksmi Pamuntjak)
63. The Great of Two Umars (Fuad Abdurrahman)
64. 9 Matahari (Adenita) 
65. Discover Kalimantan Genuineness (Oleh-Oleh dari Dinas Pariwisata Kutai Kartanegera, Kalimantan Timur)
66. The Geography of Bliss (Eric Weiner)
67. 12 Menit (Oka Aurora)
68. Menuju Persatuan Umat. Pandangan Intelektual Muslim Indonesia 
69. Book of Mujahidien (Syamil Basayev)
70. Kamus Liberalis. Mozaik Pemikiran Liberal : Islam Garda Depan di Timur Tengah (Prof. Dr. Rif'al al Sa'id)
71. ESQ (Ary Ginanjar Agustian)
72. Melawat Ragam Budaya Sleman
73. Assasin Creed (Brotherhood)
74. Assasin Creed (Revelations)
75. Membangun Demokrasi di Indonesia (Prof. Dr. Boediono)
76. Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi'ah di Indonesia (MUI)
77. Endesor (Andrea Hirata)
78. The Secret of Big Sniper (Smuel R.Pranoto)
79. Menjadi Agen Asuransi Bagai Menggali Gunung Emas (Heru Susanti, S.Sos)
80. Cara Cepat Jadi Agen Asuransi Hebat (Deddy Karyanto)
81. Membuat Impian Jadi Kenyataan (Ida Kuraeny Bestio)
82. 1000 Kata Motivasi Ampuh (Great Team)
83. Beasiswa di Telapak Kaki Ibu (Irfan Amalee)
84. Wajah Perekonomian Indonesia dan Prospeknya
85. Kembali ke UUD 1945. Tinjauan Politik dan Follow Up-nya (Soempomo Djojowadoyo)
86. Sherlock Holmes (A Collector's Edition) - Sir Arthur Conan Doyle
87. Hobbit (J.R.R. Tolkien)
88. Sang Pemenang Berdiri Sendirian (Paulo Coelho)
89. The Fifth Mountain (Paulo Coelho)
90. Ketika Cinta Berbuah Surga (Habiburrahman El Shirazy)
91. Islam "Isme-Isme" Aliran dan Paham Islam di Inddonesia - Syarif Hidayatullah
92. Pemikiran Politik Dalam Al Qur'an - Dr.Tijani Abd.Qadir Hamid
93. Filsafat Ilmu, Perspektif Barat dan Islam - Dr. Adian Husaini
94. Watak Peradaban dalam Epistemologi Ibnu Khaldun - Hafidz Hasyim
95. Membangun Kekuatan Islam Di Tengah Perselisihan Umat - Lembaga Study dan Penelitian Islam Pakistan
96. Islam dan Politik. Teori Belah Bambu Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965) - Ahmad Syafii Maarif
97. Pemikiran Islam Kontemporer di Indonesia 
98. Islam Aplikatif - Didin Hafidhuddin
99. Partai Masjumi - Reny Madinier
100. Ring of Fire, Indonesia dalam Lingkaran Api - Lawrene Blair
101. Sekolah Guru Indonesia, Guru 12 Purnama
102. Syariah Demokratik - Zuly Qodir
a

Buku Kuliah

1.       Pengantar Antropologi (Drs . Beni Ahmad Saebani, M.Si)
2.       Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan (Iwan Nugroho)
3.       Editor Bahasa (Sugihastuti)
4.       Bahasa Laporan Penelitian (Sugihastuti)
5.       Membaca Candi Sambisari (Herman Sinung Janutama)
6.       Basic Convention Organizers Course
7.       Ekonomi Pariwisata (Donald E. Lundberg)
8.       Cermat Menulis dalam Bahasa Indonesia (Ridha Mashudi Wibowo)
9.       PNPM Mandiri Pariwisata (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif)

Update 2013 (September)
10. Kebijakan Pembangunan Destinasi Pariwisata (Drs. Bambang Sunaryo., M.Sc.)
11. Pariwisata Indonesia. Antara Peluang dan Tantangan (Prof. Dr-Phil. Janianton D)
12. International Tourism Policy (David L. Edgell) 
13. Jelajah Wisata Nusantara 
14. Wisata 1000 Candi (Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman)
15. Wisata Supranatural di Pulau Jawa (Sutrisno Raharjo)
16. Planning Sustainabe Tourism (Penerbit ITS) 
17. Manajemen Destinasi Pariwisata. Sebuah Pengantar Singkat (Janianton Damanik dan Frans Teguh)
18. Kupas Tuntas TOEFL
19. Dasar Dasar Ekowisata
20. Pengelolaan Ekowisata Pesisir dan Laut. (Ambo Tuwo)
21. Meretas Jalan Ekowisata Bali (Nyoman Sukma Arida)
22. Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat ( Argyo Demartoto)
23. Perencanaan Ekowisata (Janianton Damanik & F.Weber)
24. Metode Penelitian Survey (LP3ES)
25. Metode Penelitian Pariwisata (Wardiyanta)
26. Prinsip - Prinsip Menkonservasi Lanskap (Chafid Fandeli dan Muhammad)
27. Metodelogi Penelitian Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya - Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna, S.U.
28. Masalah Sosial dan Upaya Pemecahannya - Soetomo
29. Community Development, Teori dan Aplikasi - Dr.Alfitri, M.Si
30. Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat - Sunyoto Usman
31. Metode Penelitian Pariwisata - Wardiyanta
32. Agama dan Pariwisata, Telaah Atas Transformasi Keagamaan Komunitas Muhammadiyah Borobudur 
33. Kesejahteraan dan Upaya Mewujudkan dalam Perspektif Masyarakat Lokal - Soetomo


Dokumentasi / Jurnal / Publikasi
  • 1. Festival Kesenian Yogyakarta , Refleksi Retrospeksi dan Reposisi 
  • 2. Tugas Akhir - Peran Pusat Studi Pariwisata UGM dalam Rangka Meningkatkan Profesionalisme Kerja Bidang Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (Hannif Andy Al – Anshori) 
  • 3. Jurnal – Pariwisata dalam Pandangan Kaum Santri Tradisional Jawa (Studi Kasus Pengembangan Wisata Ziarah di Kompleks Masjid – Makam Sunan Kalijaga Kadilangu, Demak) (Andri Sulistyani) 
  • 4. Review Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah Kalimantan Timur Tahun 2013 (Pusat Studi Pariwisata)
  • 5. Jurnal Pariwisata Nasional (April 2012)

     
Kamis, 26 September 2013
Posted by hannif andy al anshori

Ads

Artikel Populer

PROFIL

Hannif Andy Al anshori 19 Agustus 1992 Blog ini dibuat pada tanggal 27 Maret 2013 Kunjungi website saya di www.insanwisata.com

- Copyright © Hannif Andy Al - Anshori -