Posted by : hannif andy al anshori Sabtu, 17 November 2012

Secara harfiah, ‘hermeneutika’ artinya ‘tafsir’. Secara  etimologis, istilah hermeneutika dari bahasa Yunani hermĂȘneuin yang berarti menafsirkan. Istilah ini merujuk kepada seorang tokoh mitologis dalam mitologi Yunani yang dikenal dengan nama Hermes (Mercurius). Di kalangan pendukung hermeneutika ada yang menghubungkan sosok Hermes dengan Nabi Idris. Dalam mitologi Yunani Hermes dikenal sebagai dewa yang bertugas menyampaikan pesan-pesan Dewa kepada manusia. Dari tradisi Yunani, hermeneutika berkembang sebagai metodologi penafsiran Bibel, yang dikemudian hari dikembangkan oleh para teolog dan filosof di Barat sebagai metode penafsiran secara secara umum dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora. 

The New Encyclopedia Britannica  menulis, bahwa hermeneutika adalah studi prinsip-prinsip general tentang interpretasi Bibel (the study of the general principle of biblical interpretation). Tujuan dari hermeneutika adalah untuk menemukan kebenaran dan nilai-nilai dalam Bibel. Dalam sejarah interpretasi Bibel, ada empat model utama interpretasi Bible, yaitu (1) literal interpretation, (2) moral interpretation, (3) allegorical interpretation, (4) anagogical interpretation

Hermeneutika bukan sekedar tafsir, melainkan satu ‘metode tafsir’ tersendiri atau satu filsafat tentang penafsiran, yang bisa sangat berbeda dengan metode tafsir al-Quran. Di kalangan Kristen, saat ini, penggunaan hermeneutika dalam interpretasi Bibel sudah  sangat lazim, meskipun juga menimbulkan perdebatan. Salah satu buku yang banyak dirujuk kalangan akademisi IAIN dalam  menulis hermeneutika adalah buku E. Sumaryono berjudul Hermeneutika: Sebuah Metode Filsafat (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1999). Buku ini memuat kesalahan yang fatal dalam memandang konsep teks kitab suci agama-agama dan menyatakan bahwa tafsir (al-Quran) sama dengan hermeneutika. Ditulis dalam buku ini :

“Disiplin ilmu yang pertama yang banyak menggunakan hermeneutik adalah ilmu tafsir kitab suci. Sebab semua karya yang mendapatkan inspirasi Ilahi seperti al-Quran, kitab Taurat, kitab-kitab Veda, dan Upanishad supaya dapat dimengerti memerlukan interpretasi atau hermeneutik.2

Cara pandang Sumaryono sebagai orang Katolik memang khas konsep Kristen tentang Bibel. Tetapi, Sumaryono jelas tidak cermat, karena di kalangan Kristen seperti Dr. C. Groenen,  banyak yang sadar akan perbedaan antara konsep teks al-Quran dengan Bibel. Al-Quran bukanlah kitab yang mendapatkan inspirasi dari Tuhan sebagaimana dalam konsep Bibel, tetapi al-Quran adalah kitab yang ‘tanzil’, lafzhan wa ma’nan (lafaz dan maknanya) dari Allah. Konsep ini berbeda dengan konsep teks dalam Bibel, yang merupakan teks yang ditulis oleh manusia yang mendapat inspirasi dari Roh Kudus. 

Bahkan, Paus sendiri mengakui perbedaan antara al-Quran dengan Bibel. Pada 17 Januari 2006, Surat Kabar ‘New York Sun’, menurunkan tulisan Daniel Pipes, berjudul “The Pope and the Koran” (Paus dan al-Quran). Pipes, yang dikenal sebagai ‘ilmuwan garis keras’ dalam memandang Islam, mengungkap pernyataan Paus Benediktus XVI tentang al-Quran, dalam sebuah seminar tentang pemikiran Fazlur Rahman, pada September 2005 lalu. 

Paus, seperti dikutip Pipes, dari Pastor Joseph D. Fessio, menyatakan, bahwa dalam pandangan tradisional Islam, Tuhan telah menurunkan kata-kata-Nya kepada Muhammad, yang merupakan kata-kata abadi. Al-Quran sama sekali bukan kata-kata Muhammad. Karena itu bersifat abadi, sehingga tidak ada peluang untuk menyesuaikannya dengan kondisi dan situasi atau menafsirkannya kembali. (There's no possibility of adapting it or interpreting it).

Karena itu, menurut Paus, kaum Yahudi dan Kristen, dapat mengambil apa yang baik dalam tradisi (kitab) mereka dan menghaluskannya. Jadi, kata Paus, dalam Bibel itu sendiri ada logika internal yang memungkinkan untuk disesuaikan dan diaplikasikan sesuain dengan situasi dan kondisi yang baru. (There is, in other  words, "an inner logic to the Christian Bible, which permits it and requires it to be adapted and applied to new situations."). Dalam istilah Paus, Bibel adalah “kata-kata Tuhan yang turun melalui komunitas manusia.” 

Karena sifatnya sebagai ‘teks manusiawi’, maka Bibel memungkinkan menerima berbagai metode penafsiran hermeneutika, dan menempatkannya sebagai bagian dari dinamika sejarah. Ini berbeda dengan sifat teks al-Quran yang otentik dan final, sehingga Islam memang bukanlah bagian dari dinamika sejarah. Islam sudah sempurna dari awal (QS 5:3). Islam tidak berubah sejalan dengan perkembangan sejarah. Sejak zaman Nabi Muhammad saw, kaum Muslim memahami Tuhan (Allah), mengucapkan syahadat, mengerjakan shalat, zakat, puasa, haji, dan berbagai ibadah lainnya dengan cara yang sama. Karakter Islam ini sangat berbeda dengan sifat dasar Kristen, Yahudi, Budha, Hindu, dan agama-agama lainnya, yang berubah-ubah menurut kondisi waktu dan tempat. 

Terhadap hermeneutika, Vatikan sendiri sudah menentukan sikap. Secara umum, hermeneutika sudah diterima oleh kaum Katolik sebagai cara resmi dalam interpretasi Bibel. Dalam buku Penafsiran Alkitab dalam Gereja: Komisi Kitab Suci Kepausan, ditulis:  

“Alkitab adalah sabda Tuhan sepanjang segala abad. Oleh karena itu, mutlak dibutuhkan sebuah teori hermeneutik yang memungkinkan penggabungan metode-metode sastra dan kritik historis dalam suatu model penafsiran yang lebih luas. Persoalannya adalah bagaimana mengatasi jarak waktu yang terbentang antara periode si penulis dengan mereka yang pertama kali menjadi tujuan teks alkitabiah dan periode zaman kita, dan bagaimana melaksanakannya dengan cara tertentu yang memungkinkan suatu aktualisasi yang tepat dari pesan alkitabiah sehingga kehidupan iman Kristiani dapat dipupuk. Karena itu, semua eksegese tentang teks diharapkan melengkapi dirinya dengan suatu “hermeneutika” seperti yang dipahami oleh makna modern ini. Alkitab sendiri serta sejarah penafsirannya menunjuk pada pentingnya suatu hermeneutika – yaitu suatu penafsiran yang berasal dari dan menyapa dunia dunia kita sekarang.” 3

Meskipun menerima hermeneutika filsafat sebagai alat penafsir Bibel, tetapi Vatikan  juga menolak teori hermeneutika tertentu yang dianggap tidak memadai untuk menafsirkan Kitab Suci, seperti hermeneutika eksistensialis Rudolf Bultman, karena cenderung mengungkung pesan-pesan Kristiani dalam suatu filsafat tertentu dan sekedar pesan anthropologis belaka.  Buku ini juga mendiskusikan secara kritis metode historis-kritis dan metode literal dalam penafsiran teks Bibel. Vatikan menolak cara penafsiran literal yang melulu subjektif dan melekatkan makna apa saja pada teks Bibel. “… kita harus menolak penafsiran yang tidak autentik, setiap tafsiran yang asing bagi makna yang diungkapkan oleh penulis dalam teks tertulis. Mengakui kemungkinan adanya makna yang asing semacam itu sama halnya dengan mencabut pesan Injil dari akarnya, yaitu sabda Allah dalam komunikasi historisnya; dan juga berarti membuka pintu bagi penafsiran liar yang bersifat sangat subjektif.” 4

Jadi, meskipun menerima metode hermeneutika filsafat dalam penafsiran Bibel, Vatikan tetap bersifat selektif dan tidak membiarkan penafsiran liar yang dengan seenaknya memasukkan makna yang bertentangan dengan ideologi Katolik. Padahal, Bapak hermeneutika modern, Friedrich Schleiermacher (1768-1834) menyatakan, bahwa diantara tugas hermeneutika itu adalah untuk memahami teks “sebaik atau lebih baik daripada pengarangnya sendiri.”5  Hermeneutika modern yang dipelopori oleh Schleiermacher memang memunculkan persoalan bagi kalangan Kristen sendiri. Sebab, hermeneutika modern menempatkan semua jenis teks pada posisi yang sama, tanpa mempedulikan apakah teks itu “Divine” (dari Tuhan) atau tidak, dan tidak lagi mempedulikan adanya otoritas dalam penafsirannya. Semua teks dilihat sebagai produk pengarangnya. Penggunaan hermeneutika modern untuk Bibel bisa dilihat sebagai bagian dari upaya liberalisasi di kalangan Kristen. Bagi Schleiermacher, faktor kondisi dan motif pengarang sangatlah  penting untuk memahami makna suatu teks, disamping faktor gramatikal (tata bahasa).  6

            Namun, sebelum Schleiermacher, upaya melakukan “liberalisasi” dalam interpretasi Bibel sudah muncul sejak zaman Enlightenment di abad ke-18. The University of Halle memainkan peranan penting. Yang terkenal adalah Johann Solomo Semler (1725-1791). Para teolog liberal in memainkan peranan penting dalam melakukan reapresiasi terhadap “akal manusia” dan tumbuhnya perlawanan  terhadap otoritas yang tidak masuk akal (unreasonable authority). Semler melakukan pendekatan radikal terhadap Bibel dan sejarah dogma, dengan mengajukan program hermeneutika dari perspektif “studi kritis sejarah”. Ia mengajukan gagasan transformasi radikal terhadap dasar-dasar hermenutika teologis. Interpretasi Bibel, kata Semler, harus dihentikan dari sekedar upaya untuk menverifikasi dogma-dogma tertentu. Dengan kata lain, interpretasi dogmatis terhadap teks Bibel, harus diakhiri, dan perlu dimulai satu metode baru yang ia sebut “truly critical reading”.  Hermeneutika, menurutnya, mencakup banyak hal, seperti tata bahasa, retorika, logika, sejarah tradisi teks, penerjemahan, dan kritik terhadap teks. Tugas utama hermenutika adalah untuk memahami teks sebagaimana dimaksudkan oleh para penulis teks itu sendiri. (The main task of hermeneutics, however, was to understand the texts as their authors had understood them). 7

Bagi kaum Kristen, realitas teks Bibel memang membutuhkan hermeneutika untuk penafsiran Bibel mereka. Para hermeneut dapat menelaah dengan kritis makna teks Bibel – yang memang teks manusiawi – mencakup kondisi penulis Bibel, kondisi historis, dan makna literal suatu teks Bibel. Perbedaan realitas teks antara teks al-Quran dan teks Bibel juga membawa konsekuensi adanya perbedaan dalam metodologi penafsirannya. 

Tetapi, metode historis kritis dan analisis penulis teks, tidak dapat diterapkan untuk teks wahyu seperti al-Quran, yang memang merupakan kitab yang tanzil. Masalah ini akan dikaji lebih terperinci pada bagian berikutnya. Yang jelas, ada sabda Nabi Muhammad saw yang perlu direnungkan secara mendalam oleh para akademisi Muslim, khususnya yang sedang bergelut dalam  dunia studi Islam di kampus-kampus Islam. Mereka seharusnya menyiapkan diri dengan serius menyambut tantangan besar dalam bidang studi Islam yang ditimbulkan oleh kajian para orientalis terhadap Islam. Sebelum mengadopsi metodologi baru dalam ilmu tafsir, harusnya mereka mengakaji dengan serius, mengerti apa hakekatnya, dan apa bedanya dengan Islam. Sebab, ketika wacana asing itu sudah masuk dan diikuti banyak orang, maka tidak mudah lagi menghentikan dan mengkoreksinya. Sebagian sudah mempunyai kepentingan untuk mempertahankan, meskipun terbukti keliru. Padahal, Rasululah saw pernah mengingatkan:

“Kalian sungguh akan mengikuti jalan-jalan kaum sebelum kalian, sehasta demi sehasta, sejengkal demi sejengkal, sehingga apabila mereka masuk lubang biawak sekali pun kalian akan mengikutinya juga. Kemudian Rasulullah s.a.w. ditanya: “Apakah mereka [yang diikuti] itu kaum Yahudi dan Nasrani?” Rasulullah menjawab: “Siapa lagi [kalau bukan mereka].”  (H.R. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Ahmad).


2 E. Sumaryono, Hermeneutika: Sebuah Metode Filsafat (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1999), hal. 28. Kajian yang cukup luas tentang hermeneutika dalam Bibel ditulis dalam buku Interpreting the Scriptures: Hermeneutik (Terjm.), karya Kevin J. Corner dan Ken Malmin (Malang: Gandum Press, 2004). Ditulis dalam buku ini, bahwa banyaknya perpecahan dalam agama Kristen terjadi bukan hanya karena hal-hal jasmaniah atau adanya sekta-sekta (heresy), melainkan juga karena perbedaan-perbedaan dalam bidang hermeneutik.
3 Penafsiran Alkitab dalam Gereja: Komisi Kitab Suci Kepausan, hal. 100-101. Sikap Vatikan ini menunjukkan, kaum Katolik telah siap memberikan sikap terhadap hermeneutika filsafat. Di Indonesia, tampak banyak cendekiawan Muslim ketinggalan dalam menyikapi masalah hermeneutika, yang jelas-jelas sudah merasuk ke dalam tubuh kaum Muslimin dan diajarkan di jurusan tafsir hadits di kampus-kampus Islam. Seharusnya, para cendekiawan dan ulama Islam, segera mengkaji dan menentukan sikap secara ilmiah terhadap hermeneutika, sehingga tidak mudah terjebak ke dalam dua sikap yang sama-sama ekstrim: tidak tahu dan tidak peduli sama sekali dan terjebak ke dalam arus besar hegemoni hermeneutika untuk penafsiran al-Quran.
4 Ibid, hal. 104-108.
5 Lihat E. Sumaryono, Hermeneutika: Sebuah Metode Filsafat (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1999), 41.
6 Mircea Eliade (ed), The Encyclopedia of Religion, (Chicago: Encyclopedia Britannica Inc, 15th edition).
7 Werner G. Jeandrond,  Theological Hermeneutics, (London:Macmillan Academic and Professional Ltd, 1991), hal. 39.

Materi Dauroh bersama Dr. Adian Husaini

Leave a Reply

Terimakasih atas komentarnya

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Ads

Artikel Populer

PROFIL

Hannif Andy Al anshori 19 Agustus 1992 Blog ini dibuat pada tanggal 27 Maret 2013 Kunjungi website saya di www.insanwisata.com

- Copyright © Hannif Andy Al - Anshori -