Formulir Kontak

 

Kawan, Singgahlah ke Kampungku



kawan..
Raja Ampat berada pada jantung segitiga karang dunia (coral triangle) yang merupakan pusat keanekaragaman hayati laut tropis terkaya di dunia saat ini. Memiliki 465 jenis karang (jumlah ini hampir separuh dari jumlah karang di dunia). Juga memiliki kanekaragam jenis ikan yang bernilai tinggi dan menjadi daya tarik wisata.

kawan...
Raja Ampat merupakan pulau yang terajut dari lebih 620 pulau yang terdiri dari empat pulau besar, yakni pulau Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool yang terletak di barat laut dari ujung Provinsi Papua Barat. Jadi, bisa kau bayangkan betapa kayanya kekayaan alam yang dimiliki Raja Ampat.

kawan...
Saat ini Raja Ampat memiliki luas wilayah sekitar 882.953 km2 dengan luas daratan 46.000 km2 yang melengkapi 17 distrik (kecamatan) dan membawahi 97 kampung (desa).

kawan...
Kampungku memanjakan bagi siapa saja yang mendengar dan melihatnya. Ya, Raja Ampat. Semuanya dijadikan ajang eksis di sosial media. Dari jauh memang nampak menggoda. Tapi, maukah kau aku ceritakan bagaimana aku menghadapi kehidupan ?

Pendidikan adalah bagian dari pembangunan dan menjadi hak kewajiban setiap warga negara. Tapi bagaimanapun aku tak akan betah bersekolah dengan kondisi gedung sekolah yang mulai rapuh. Genteng bocor serta meja kursi yang telah patah. Bagaimana aku bisa maju dengan kondisi keterbatasan guru yang mengajar. Sedangkan aku butuh bersandar pada guru-guru tentang apa yang aku tak tahu.

kawan...
Betapa sulitnya aku di sini belajar. Penerangan yang tak sempurna sampai masuk ke kampung hanya mengandalkan bulan terang agar aku dapat membaca di lapangan. Pelita yang juga tak dicukupi dengan ketersediaan minyak hanya mampu menerangi sepetak ruang agar asap dapur terus mengepul. Ya.. ibuku memasak untukku.

kawan...
Berhari-hari tak ada yang menasehatiku. Aku malu, jika banyak di antara teman-temanku yang dimanja dan disayang. Sedangkan aku ? sesekali dipanggil dengan sebutan 'binatang' oleh orang-orang yang ku sayang. Sesekali aku di pukul dan di lempar. Masihkah ada di luar sana yang mau memanggilku sayang ?

kawan...
Angin yang kencang tak selalu bersahabat dengan perahu yang biasa aku gunakan. Yang kubutuhkan adalah kapal besar yang mampu menahan segala macam gelombang. Ribuan mil aku lewati untuk bisa mengakses segala kebutuhan. Dan aku tertahan. Sepekan aku harus menanggung ketinggalan pelajaran yang telah diajarkan.

kawan...
Ketika aku sakit, tak ada yang sehebat Ayah Ibuku. Sangat pahit bagiku ketika aku mendengar teman sebayaku yang telah tiada karena sudah tak tertolong lagi nyawanya. Biaya pengobatan yang mahal serta transportasi yang sangat sulit mengharuskan mereka merawat yang terluka di gubuk tua. Berapa lama aku harus menunggu? menahan sakit berhari-hari tanpa ada dokter disampingku. Aku lelah menunggu kapal di hari sabtu. Dengan ribuan mil yang harus kutempuh memakan waktu. Maka jangan salahkan aku jika aku tak pandai menjaga tubuhku. Jangan salahkan Ayah Ibuku ketika mereka tak lagi dapat merawat lukaku.

kawan...
Mungkin aku dan teman-temanku terlihat kusam di matamu. Bukan aku tak mau membasahi dan seindah penampilanmu. Bukan aku tak sanggup menghias diriku sepertimu. Tapi kau tahu betapa sulitnya aku mendapatkan air di sini? Aku masih bersyukur ibuku selalu memasak air untukku.

kawan...
Rumahku memang tak seindah rumahmu yang di halamannya dapat ku petik setangkai mawar dan melati. Halaman rumahku yang beralas tanah dan laut memang tak seluas milikmu yang di sana dapat ku pinta untuk dijadikan taman. Sekitarnya hanyalah lautan dengan pemandangan sampah dan kotoran yang berserakan. Aku tak lagi melihat dengan jelas ikan-ikan kecil yang berenang. Aku tak dapat lagi bercerita pada adik-adiku tentang keindahan lautan.


kawan...

Rumahku juga mungkin tak senyaman rumahmu. Cukuplah daun tikar menjadi alas kita bersama. Bercerita hingga tertidur di atasnya. 

Ahh... kau sudah tahu semuanya bukan ? Maukah kau berbagi denganku ? Tentang keindahan di luar sana. Aku tak pernah memanggilmu, aku pun tak pandai mengirim surat untukmu. Tapi, relakah kau singgah ke kampungku ? Tak perlu untuk menjadi pahlawan atau orang dermawan. Aku hanya ingin kau singgah ke kampungku. Memang, kontras sekali terlihat bagiku. Aku dengan keadaanku, dan kau dengan keadaanmu.

"Cerita ini dikembangkan pascamengajar selama dua hari di SMP Fafanlap. Bersama Karmila dan Nazmi dengan keadaan sebenarnya”.

Total comment

Author

Hannif Andy Al Anshori

0   komentar

Cancel Reply