Formulir Kontak

 

Veteran yang Dilupakan


Aku terpaku melihat jumlah mereka di atas kapal perusahaan. Kapal kayu tua itu berkali-kali teriak kencang bertanda keberangkatan. Segerombolan orang nampak tergesa-gesa berlarian di tengah lapang agar mereka tak tertinggal. Aku dan almamaterku telah siap di atas kapal. Begitu pula teman-teman yang telah duduk rapi di kepala kapal. Minggu, 17 Agustus 2014 adalah hari yang penuh kenangan. Dimana nusantara bersatu merayakan kemerdekaan.

Kapal kami berlabuh ke Yellu terlebih dahulu. Menjemput masyarakat yang juga bersama-sama merayakan kemerdekaan Indonesia ke-69. Ombak laut keberangkatan tak lagi ganas pagi itu. Dengan tenangnya kapal bermuatan ratusan orang mengantar kami sampai ke tujuan. Nusantara telah diwakili oleh sekumpulan orang yang berasal dari daerah yang yang wajah-wajahnya sudah banyak ku kenal. Sabang, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua telah berkumpul dalam satu waktu yang bersamaan di lapangan Harapan Jaya. Kampung yang letaknya tak jauh dari Fafanlap. Kampung indah dengan pemandangan pantai yang eksotis juga ikan hias seperti Napoleon, bintang laut, dan ikan lain yang aku tak kenal namanya.

Barisan pasukan upacara dengan seragam berbeda-beda telah nampak dari kejauhan dermaga Harapan Jaya. Tak ada riuh peserta upacara selain ketenangan dan suara checksound dari panitia. Aku berjalan bersama beberapa veteran Fafanlap yang masih dengan gagahnya mengenakan pakaian pejuang di badannya. Sepatunya yang berdebu dan hilang warna tetap bangga dikenakannya. Wajahnya yang keriput dimakan usia tetap memancarkan semangat pemuda. Sikap badan serta tatapan tajamnya memperlihatkan kewibawaannya. Langkah-langkahnya tak lagi diseret-seret. Lekuk wajahnya dikembalikan sempurna. Kepalanya yang menunduk sedikit diangkatnya. Genggaman tangannya seakan tak mau kalah dengan seorang pegulat kelas berat. Sesekali mereka tersenyum bahagia melihat anak-anak kecil yang berlarian mengibarkan bendera. Sepintas bayanganku melewat. Tentang kakekku yang juga seorang veteran perlawanan Belanda. Bekas butir peluru masih membekas di dadanya hingga ajal menjemputnya. Tak banyak lagi yang mengingat jasa-jasanya. Anak cucunya lebih mengagung-agungkan pahlawan kesiangan dalam televisi yang tak jelas asal-usulnya. Para veteran dipandang tak spesial nan istimewa. Namanya juga tak tertulis dalam buku sejarah yang banyak kita pelajari. Tak satu pun juga guru yang bercerita tentangnya. Setidaknya, aku tetap mengagumi para veteran dengan perjuangannya. Sampai ia bercerita, tentang perjuangan tetes darah dan keringat di Papua. Dimana aku tak pernah dapatkan saat guruku sedang bercerita.

Aku berada pada barisan paduan suara bersama adik-adik binaan yang dilatih suara. Dengan suasana khidmat kami bernyanyi. Mengheningkan Cipta, 17 Agustus dan Bagimu Negeri adalah beberapa lagu refleksi kemerdekaan yang dinyanyikan. Merah Putih terus berkibar dan ditarik pasukan kibar bendera dengan gagahnya. Teks proklamasi dibacakan diiringi tembakan laras panjang yang tak lagi kuhitung jumlah letupan pelurunya. Aku dalam barisan hanya bisa terkagum dengan model upacara yang jauh daripada dugaan di awal. Tak ada yang menyangka upacara dapat berjalan seperti sempurna. Begitu pula seorang perangkat desa yang merasa terharu menyaksikan upacara meskipun putrinya berada pada belakang barisan pengibar bendera.




Pasca upacara, kembali aku melirik barisan mereka yang mengenakan pakaian hijau tua. Nampak satu persatu wajah-wajah mereka mengembangkan seyuman. Semuanya saling bertatapan. Entah apa yang dibicarakan, nampaknya ada kesan yang membanggakan dari upacara kemerdekaan. Seperti apa yang kukatakan di awal, seorang veteran tak dipandang spesial bagi orang kebanyakan. Aku pun mendekatinya, mencoba mengajaknya bicara di bawah tenda kebesaran. Bapak Hunang Loji dan Bapak Abdul Ajid. Begitu yang kutahu namanya. Keduanya adalah veteran Fafanlap yang masih tersisa ditinggal sekawanan pahlawan di masanya. Topi baretnya yang dikenakan tak dapat ku kenali pangkatnya.

Bapak Hunang Loji, di usianya sekarang 75 tahun bercerita tentang kebanggaannya menyaksikan pasukan pengibar bendera yang pesertanya juga diambil dari kampungnya, Fafanlap. Samar dan lirih suaranya tak lagi mampu kurekam dan kucatat. Gemerutu giginya yang tinggal beberapa nampak menggambarkan ketegasan di masa mudanya. Sedangkan Bapak Abdul Ajid, veteran berusia 70 tahun bercerita tentang Papua Barat. Pelan-pelan aku dekatkan pendengarannku di wajahnya. "Kita berani, Indonesia bisa mengalahkan Belanda dengan merebut senjata-senjata mereka", ucapnya. Ya, aku tak lagi heran dengan model-model perlawanan veteran lama merebut kemerdekaan. Ia pun menambahkan bahwa cukup singkat untuk melumpuhkan Belanda, hanya kurang dari satu bulan. Panah dan tombak menjadi modal kedua setelah tekad dan perjuangannya. Tatapannya yang tajam membuatku semakin mantap. Ia pun menceritakan tentang beberapa peninggalan Belanda yang dapat disaksikan langsung di kampungnya, Fafanlap. Sesekali ia bercerita di luar pertanyaanku sampai aku sadar bahwa beberapa orang telah memenuhi lokasi sarapan. Bergegas aku sudahi percakapan.

Tak panjang aku bercerita dengan kedua veteran Fafanlap yang baru kukenal. Mereka menunjukkan baret dan nama yang melekat di pakaiannya. Kacamatanya dinaikkan menggunakan alis tebalnya. Kucatat nama mereka dalam buku sejarah baru yang tak pernah sekalipun menyebut nama mereka. Hunang Loji dan Abdul Ajid, adalah veteran Fafanlap yang dilupakan jasa-jasanya. 

Total comment

Author

Hannif Andy Al Anshori

0   komentar

Cancel Reply