Formulir Kontak

 

Kejutan dari Sarah

Aku bersama anak-anak. Mereka membuatkanku kue ulang tahun

Sudah hampir satu bulan aku bersama 18 temanku bertugas di Kampung Fafanlap, Ditsrik Misool Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Satu persatu masyarakat yang jumlahnya 250 kepala keluarga sudah mulai banyak mengenal dan akrab denganku. Begitu pula anak-anak SMP N 4 Fafanlap yang sebagian memanggilku dengan nama akrab ‘Kak Peta’. Ya, begitu mereka kadang memanggilku karena aku selalu membawa peta saat mengajar di sekolah maupun sanggar belajar. Mengajak mereka berlari-lari untuk melihat sisi luar dari kampung mereka melalui peta dan atlas.

Satu bulan adalah waktu yang sangat berarti bagiku. Mereka tak lagi malu mengunjungi rumah pondokanku. Hijir, Jumati, Haji, Nur, Hayati, Mila, Sarah, Siti, Rani, dan teman-temannya selalu iseng membuka album foto-fotoku di ponselku. “Kak Hanif, sa boleh pinjam hape tidak? Tolong kasih tunjuk foto kak Hanif”. Seringkali Mila yang mengawali meminjam HP untuk dipertontonkan ke teman-temannya.

“Kak Hannif, di Jogja bagus e”. Begitu kata Nur, sembari melihat foto-foto di Candi Prambanan. Aku hanya tersenyum melihat mereka yang kadang berdebat masalah gambar pemandangan dan foto-foto di ponselku. “Ini adik Kak Hannif?” tanya Mila. Aku menggangguk. “Ih..cantik e”, serunya.

“Kak Hannif umur berapa?”, tanya Sara yang malam itu juga melihat koleksi foto-fotoku.

“Besuk, tanggal 19 Agustus kak Hannif ulang tahun”, aku tersenyum.

Jee. 19 Agustus besuk kah?” tanya Nur sembari melotot bertanya. Terlihat ia langsung berpikir disusul tertawa yang menggemaskan. Kulihat di antara mereka juga ada yang berbisik setelah mendapat tanggal hari ulang tahunku. Nampaknya anak-anak merencakan sesuatu. Benar saja, mereka mengatakan akan melempariku dengan tepung dan telor ayam.

“Besuk kita lempar kak Hannif pake telor dan tepung”, goda Sarah bersama teman-temannya.

Masih ada beberapa hari lagi bagi mereka untuk menyiapkan segalanya, pikirku. Aku pun kembali pada aktivitas programku. Berusaha membalas candaan dan pertanyaan-pertanyaan mereka seputar Jogja sembari melihat layar HP ku.

19 Agustus 2014, Pukul 19.30 WIT

Malam itu aku sedang berkunjung ke rumah Paman Raju dan Bibi Salima. Bibi Salima adalah satu dari banyak Mace di Fafanlap yang pandai menganyam tikar dan membuat topi dari daun tikar. Sedangkan Paman Raju adalah karyawan sebuah yayasan yang juga berencana membuat homestay di pulaunya. Beruntung aku memiliki keluarga seperti mereka. Di rumahnya aku bercerita dan mendampingi Paman Raju membuat proposal pengajuan dana. Teh hangat pun dihidangkan sambil menyantap kue sisa tahlilan siang tadi.

Terdengar di luar sana anak-anak mencari dan memanggil-manggil namaku. Aku pun acuh. Sampai akhirnya mereka menemukanku duduk di tengah ruang tamu yang remang bersama Paman Raju. Tanpa permisi, mereka teriak dan terus mengajakku ke luar.

“Ee. Sebentar ya, kakak masih ada urusan dengan Paman Raju. Kalian tunggu saja di pondokan ya”, Aku menyuruh Hijir membawa pasukannya untuk keluar.

Barang beberapa menit saja, aku berpamitan. Melipat dan merapikan kertas-kertasku yang tercecer di meja Paman Raju.

Aku tak mengira, anak-anak telah menunggu di rumah Pak Kades yang rumahnya bersebelahan dengan Paman Raju. Aku diarak bersama anak-anak sampai pondokan. Aku dipaksa dibawanya ke tengah lapangan untuk dilempar telor dan tepung. Beruntung di tanganku masih membawa beberapa dokumen penting yang harus kujaga. Aku mencari alasan agar dokumen tetap aman. Anak-anak pun maklum. 

Tanpa sadar, dari belakang teman-temanku telah menyergap dan menarik dokumen dari tanganku, melepas jam tangan dan topi yang aku kenakan, dan mengambil ponsel yang ada di saku.

Dari arah depan, datang si Sarah bersama Rani yang melempar telor tepat ke arah kepalaku. Disusul oleh Nur yang juga melempar terigu ke badanku. Tak mau kalah, anak-anak lain menyiram air laut ke bagian punggungku. Ah, lengkap sudah. Aku mengejar anak-anak dan memeluk mereka satu per satu.

“Ka Hannif, ini Sarah buatkan kue untuk Kak Hannif. Coba ya!”, kali ini Sarah yang angkat bicara ketika aku menyudahi kejar-keharan.

“Wah, terimakasih Sarah. Ini Sarah yang buat kah?”, aku memastikannya.

“Iya kak. Tadi sore yang buat”, Sarah meyakinkanku.

Lantas aku mengambil kamera saku dan mengajak mereka foto bersama. Beberapa dari mereka yang merasa heran dengan rasa kue yang dibuat Sarah masih usil menyentuh coklat yang luber di piring. Aku hanya tersenyum saja melihat mereka. Kue itu aku bawa ke pondokan dan kubagikan bersama teman-temanku yang lain. Mereka menyantap kue Sarah. Entah apa yang aku rasakan adalah sama dengan apa yang mereka rasakan. Kue ini lebih enak dibanding kue lain yang kebanyakan dijual. Kue buatan Sarah adalah kue buatan anak SMP kelas VIII. Kue buatan Sarah telah habis barang beberapa menit saja dilahap oleh teman-teman.


Di luar, beberapa pace yang juga mengetahui hari ulang tahunku menyalamiku bergantian. Bang Syamsudin yang juga dari tadi melihat aku diserang anak-anak juga tertawa dan bernyanyi untukku. 

Total comment

Author

Hannif Andy Al Anshori

0   komentar

Cancel Reply