Formulir Kontak

 

Sekelumit Cinta Tentang Fafanlap

Lama aku dirundung sendu. Setelah kepulanganku darimu yang tak diikuti rasa cepat melupa. Mungkin hutangku belum lunas terbayarkan. Benar, aku berjanji padamu untuk selalu mengenangmu dalam ingatan, juga dalam canvas hidupku. Tak banyak kita bisa bercengkrama, bergandengan tangan dan terus bergumam akan keindahan negerimu. Sayang semuanya dipisahkan oleh waktu. Yang sekalipun detik tak bisa diajak kompromi untuk berhenti beberapa waktu. Langitpun demikian, baru saja kita menikmati paginya, sudah harus terusir dengan malamnya. Dan kau ucapkan selamat malam, melepas genggaman erat tanganku.

Kini kau datang kembali untuk menagih janji kemarin. Tanganmu kembali meraih tanganku yang dingin diserang malam. Belum sempat aku bersiap. Kau sudah mengajakku berkeliling menggunakan katinting milikmu. Beruntung di sakuku masih tersisa kamera kemarin. Diam-diam, kuabadikan keindahanmu.


Kita memulai dimana kau sebut itu dengan nama Dapunlol, orang mengenalnya sebagai Puncak Harfat. Kau bergegas menarikku dan menanjaki tangga-tangganya. Kau berlari gesit ke atas sana, melewati seribu tangga yang licin karena hujan. Kulihat kau menunjuk ke satu arah. Aku pun demikian. Di sekeliling kita terbentang pulau-pulau tak bertuan yang indah.Warnanya tak pernah berhasil diaduk oleh lautan. Biru muda, biru tua, dan hijau tak pernah mau menjadi satu warna. Kau duduk di antara bebatuan dan mengajakku berpuitis barang sebentar. Belum genap aku ungkapkan perasaan, kau berdiri dan mengajakku berpindah tempat.




Genggaman tanganmu seakan tak pernah ingin lepas dariku. Kau ajak aku menikmati indahnya lautan Namlol. Warnanya yang gelap membuatku takut menyelami lautan. Kau mendorongku dan membiarkanku tenggelam di sana. Diam-diam, tanganmu menggenggam tanganku. Jemari kita saling bertemu, ah romantis sekali dirimu. Mengajakku melihat kehidupan di bawah laut Namlol. Ribuan ikan menyambut kita. Karangnya yang lunak menari-nari melihat kita saat itu. Kau melepas tanganku. Berenang jauh dan mengambilkanku bintang laut di dasar. Seakan kau tahu matahari menunjukkan pukul berapa. Bergegas kita naik ke permukaan.



Beruntung kita adalah pasangan yang serasi. Kau tak pernah berkeluh tentang panasnya siang. Kau juga tak pernah berkeluh akan turunnya hujan. Sampai kita tak sadar, katinting berbelok mengantar kita ke sebuah situs nenek moyang. Pantas saja suasananya agak berbeda, pikirku. Kau berbisik dan bertanya padaku. Memastikan niatku datang ke tempatmu. Kau pun mulai bercerita tentang banyaknya wisatawan yang tak berhasil menemukan Goa Keramat karena niat yang tak lurus. Beruntung aku bersamamu. Kau bergumam seakan acuh denganku. Bahasanya yang sulit dimengerti membuatku semakin penasaran. Kau sebut itu sebagai permintaan ijin pada nenek moyang yang menempati Goa Keramat.

Kau pun mengajakku membersihkan rerontokan daun-daun yang gugur berjatuhan di atas kuburan nenek moyang. Kucabati satu persatu rumput yang memanjang tanpa perasaan. Kau tak sebutkan siapa nama mereka yang dikubur di sana. Sepulangnya, kau ajak aku menoleh ke belakang. Melihat ke atas tempat peristirahatan nenek moyang. Nampak jelas, lafadz Allah di sana. Kau menatapku tajam sekali. Aku pun sadar, kita adalah manusia yang terkurung oleh waktu. Esok atau kapan, kita akan berpulang padaNya.



Katinting kita melaju sangat cepat. Mengikuti angin yang arahnya tak jelas mengantarkan kita berdua. Biarlah, aku merasa sangat nyaman di dekatmu. Biarlah perahu ini membawa kita ke sembarang tempat. Tersesat pun aku tak takut. Beruntung kita tak pernah kenyang bercerita tentang masa lalu. Akhirnya, kita berlabuh di Lenmaka. Lagi-lagi kau menggandeng tanganku. Menarikku ke goa vertikal yang gelap. Meraba-raba batu keras yang kita injak tanpa alas. Kita bertemu Putri Termenung. Tak banyak kita habiskan waktu. Bergegas kau ajak aku menikmati suguhan yang telah kau siapkan.



Hari tak pernah habis untuk menyisakan waktu antara kita. Kau pun demikian, tak peduli pada matahari yang cemburu pada kita berdua. Dari Lenmakana, kita berpindah ke beberapa tempat yang membuatku berdecak kagum. Kau tunjukan padaku tentang Lenkalagos. Bentuknya menyerupai hati kita. Tanpa sengaja, kita pun merangkai jemari-jemari kita menyerupai lengkungan hati. Itu yang mereka sebut dengan ‘cinta’. Kau tersenyum padaku. Belum habis suara kita menertawakan ulah jemari kita. Katinting sudah sampai pada tempat yang dinamakan Sunmalele.


Gugusan ini menyemburat bagaikan percikan kembang api. Dan pada salah satu karangnya, terpendam jejak pitarah manusia. Kulihat gambar-gambar purba di sana. Ada juga gambar telapak tangan yang genap dengan lima jarinya. Mungkin itulah kenapa kau terus menggenggam tanganku. Ada maksud yang tak dapat kuterjemah sampai saat ini. Selagi ada waktu, ingin aku melukis telapak tanganku dan telapak tanganmu. Bertanda kita berdua telah berkunjung ke sana. Jangan puas terlebih dahulu. Aku pun tak kalah romantis darimu. Silahkan kau bercermin pada permukaan lautnya. Kau pun tersenyum tersipu malu, menyaksikan wajah kita merekah menertawakan diri kita. Berapa lama kita sudah habiskan waktu? Sebelum gelap datang, kau mengajakku menikmati satu lagi tempat yang tak pernah kutahu.



Langit nampak bingung pada dirinya. Seakan tak mau mencampuri urusan kita berdua dengan mengganti warnanya. Cepat kita bergerak sampai ke Banos. Kau ajak aku merebahkan lelah di sepanjang pasir putihnya. Kulihat kau lebih dahulu tertidur dariku. Diam-diam aku meninggalkanmu. Memasang hammock diantara dua pohon kelapa muda di sana. Ku ajak kau berpindah tempat. Sambil menikmati kelapa muda yang kupetik tadi. Biarkan sepoi membawa kita pada mimpi indah. Dan terbangun pada semangat yang menggantikan lelah. Nikmatnya...

Sore cepat berlalu. Tak perlu kita gunakan ego untuk menuntut waktu. Menyalahkan masing-masing dari kita karena tak sepakat peduli waktu. Aku pun mengajakmu. Kini giliranku menggandeng tanganmu terlebih dahulu. Jangan senang dulu. Aku pun masih menyiapkan sesuatu untukmu.



Jika sudah habis sore. Malam selalu punya keindahan yang tak pernah kau sadari bukan? Lihatlah langit sore itu. Tepat dimana kita berhenti pada dermaga kampung kita. Menghabiskan waktu untuk menyaksikan penghabisan senja di timur Indonesia, tepatnya di Fafanlap, Distrik Misool Selatan, Kabupaten Raja Ampat. Warnanya teraduk manis antara jingga, biru, dan merah. Kulihat bibirmu tersenyum senang.



Tak kusangka. Seisi rumah telah lama menunggu kepulangan kita. Tersedialah hidangan makan di atas meja. Papeda namanya. Makanan khas Papua yang tak pernah kudapat di Jawa. Lahap aku menghabiskannya. Kuah kuning bertabur biak yang merendam papeda sangat lezat malam itu. Ah leganya. Kau pun melambaikan tangan. Terakhir kudengar kau mengucapkan selamat tinggal, bukan selamat malam.

Aku pun berpisah darimu. Lewat Fajar Indah yang mengantarku sampai ke tempat nyamanku. Sejauh ini, aku tak bisa melupakanmu. Sebentar saja sudah teringat tentangmu. Cerita kita begitu rumit memang. Tak bisa satu persatu aku ceritakan begitu saja tanpa seijinmu. Mungkin mereka di sana akan cemburu jika saja mendengarnya. Kini kita telah berpisah jarak dan waktu. Aku telah berjanji padamu, esok atau nanti akan kudatangi lagi negerimu. Jangan pernah bosan dengan ceritaku, jangan pernah marah dengan sikapku yang kadang acuh bertanya kabar tentangmu. Kuharap, kau juga tak pernah lelah menunggu kedatanganku. Mudah-mudahan kita dapat bertemu di lain waktu.

Terimakasih Fafanlap

Total comment

Author

Hannif Andy Al Anshori

2   komentar

mantaps sudah... :)
Haha. thanks bro. Nampaknya kau lebih sering online daripada aku
Skripsweet atau skripshit ?

Cancel Reply