Formulir Kontak

 

Untuk Papua, Cahaya dari Timur Negeri

Pulau-pulau kecil di Indonesia yang tersebar dari Pulau Rondo (Aceh) sampai Merauke (Papua), dan dari Pulau Miangas (Sulut) hingga Pulau Rote (NTT), dengan jumlah 17.504 pulau merupakan suatu potensi bangsa Indonesia yang perlu mendapat perhatian khusus, dikelola, dan dikembangkan secara berkelanjutan. Salah satu upaya membangun dan mengembangkan pulau-pulau kecil tersebut, adanya pembangunan infrastruktur yang merata. Di sebagian negara berkembang, dalam hal ini juga Indonesia, aktivitas pembangunan terkonsentrasi pada kota atau wilayah dengan berbagai fasilitas yang mendukungnya. Sementara di daerah pedesaan, pembangunan berjalan lamban karena kurangnya infrastruktur, sarana dan prasana.

Perhatian media massa baik cetak maupun elektronik untuk menyiarkan informasi dan berita sangatlah mengagumkan. Contoh saja melalui agenda-agenda traveling yang menyuguhkan pesona alam di masing-masing provinsi. Tayangan mereka menyajikan gambar dan foto cukuplah memikat kita. Cerita yang mereka lukiskan juga sangatlah membujuk. Syut-syut gambar yang indah dan adegan-adegan yang menawan membuat acara-acara ini memanjakan mata pemirsanya untuk tanpa sadar mungkin tersihir untuk datang. Namun, di sisi lain ada keprihatinan yang cukup mendalam bagi kita yang pernah singgah pada beberapa pulau yang sering menjadi liputan acara-acara televisi tersebut. Kondisi masyarakat yang terisolir di beberapa pulau itu juga sangat jarang disorot. Sebutlah Papua Barat, letaknya masih di Indonesia.

Di balik pulaunya yang menawan, Papua Barat cukup memprihatinkan kondisinya dibanding provinsi lain yang pernah diulas beberapa media. Selain angka buta aksaranya yang cukup tinggi, masih banyak daerah-daerah terpencil di Papua Barat yang tidak didukung dengan hadirnya infrastruktur seperti pembangkit listrik. Sangat menyedihkan melihat generasi muda Papua Barat yang terkendala proses belajar mengajar karena alasan tidak tersedianya pembangkit listrik.


Saat Genset Rusak? Tak banyak harap kampung ini bisa terang.

Betapa sulitnya aku di sini belajar. Penerangan yang tak sempurna sampai masuk ke kampung hanya mengandalkan bulan terang agar aku dapat membaca di lapangan. Pelita yang juga tak dicukupi dengan ketersediaan minyak hanya mampu menerangi sepetak ruang agar asap dapur terus mengepul. Ya.. dapurku..” 
(Artikel : Kawan, Singgahlah ke Kampungku)


Pelita di Malam Hari, Kampung Fafanlap - Papua Barat


Dengan krisis energi yang dialami saat ini khususnya energi listrik, rasanya masih sulit masyarakat pedesaan di belahan pedalaman pelosok negeri ini memperoleh listrik dengan baik dari PT PLN. Sebagaimana kita tahu, energi Listrik saat ini merupakan kebutuhan utama manusia untuk beraktifitas.

Sejalan perkembangan jaman, kebutuhan listrik semakin meningkat, sedangkan masalah penyediaan masih sangat terbatas khususnya dari PT PLN. Pada daerah yang jauh dari jaringan listrik, pengadaan listrik sangat sulit karena memerlukan investasi jaringan sangat besar dan keterbatasan daya yang dipunyai oleh PT PLN. Rasio elektrifikasi saat ini sekitar 52 persen, yang berarti masih ada sekitar 48 persen rakyat Indonesia yang belum menikmati pelayanan sambungan listrik, yang umumnya berada di daerah pedesaan dan terpencil. (sumber: Modul Manual Pembangunan PLTMH). Di sisi lain, situasi keterbatasan dana pemerintah melakukan pengadaan energi listrik dinilai lamban dibanding dengan pertumbuhan permintaannya.

Pada banyak daerah yang belum terlistriki dari PT PLN, mereka mengadakan listrik dengan menggunakan genset berbahan bakar solar atau bensin.  Seperti dalam contoh Papua Barat. Harga bensin dalam satu liter adalah Rp11.000,00 (belum di saat  BBM langka). Normalnya, biaya operasional pengadaan penerangan selama delapan jam (18.00 s.d 02.00 WITA) dibutuhkan bahan bakar bensin dengan jumlah 20 liter. Jika dirupiahkan menjadi Rp220.000,00 untuk 55 rumah. Angka ini tentunya sangat besar dan sulit didapat untuk daerah pedalaman. Apalagi kebanyakan masyarakatnya bermatapencaharian sebagai seorang nelayan. 

Kasus ini tentunya banyak mendapat protes dari kalangan masyarakat lokal atas pemerintahan Indonesia yang lamban menanggapi permasalahan kelistrikan di pulau-pulau terpencil Indonesia. Dalam usaha meningkatkan mutu kehidupan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat pedesaan, energi tentulah memiliki peranan yang cukup besar. Ketersediaan listrik di wilayah pedesaan yang sulit dijangkau akan mendorong produktivitas kegiatan ekonomi baru, peningkatan sarana pendidikan, peningkatan sarana kesehatan, dan masih banyak lagi dampak yang bermanfaat yang akan dirasakan masyarakat. Dalam kesempatan ini (Hari Listrik Nasional ke 69), berbekal kemampuan dan pengalaman, juga banyak mendengar jejaring pendapat masyarakat lokal, saya mencoba memberikan gagasan lewat blog sederhana untuk PT PLN dalam membuat Indonesia menjadi lebih terang.


Saat Genset Menyala? Semua berbondong belajar bersama. Senang bukan? Melihat mereka yang tersenyum merasakan asyiknya belajar, tidak lagi di bawah sinar rembulan. Itupun jika Generator menyala. 


Pembangkit listrik menggunakan bahan bakar minyak memerlukan biaya yang cukup besar bagi daerah yang berada di pelosok, sementara kemampuan produksi dan suplai minyak semakin menurun. Selain itu penggunaan bahan bakar minyak akan menyebabkan kerusakan lingkungan berupa pemanasan global. Pengadaan pembangkit listrik di pulau-pulau terpencil tentunya saat ini menjadi hal yang harus diprioritaskan oleh PT PLN. Jika saja pengadaan energi listrik pada umumnya membutuhkan biaya yang sangat besar, tentunya banyak alternatif yang dapat dicoba. Pertama, Untuk pelistrikan pedesaan di Indonesia, khususnya di Papua Barat dan pulau-pulau terpencil di Indonesia. Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) patut dikembangkan mengingat potensi tenaga air di Indonesia yang cukup melimpah. Selain kontruksinya relatif sederhana, mudah dalam perawatan dan penyediaan suku cadang (karena hampir semua komponen yang dibutuhkan telah dapat diproduksi di dalam negeri), dapat dioperasikan dan dirawat oleh masyarakat desa, serta biaya operasionalnya rendah. Di sisi lain, penggunaan dan pengelolaan PLTMH oleh masyarakat pedesaaan merupakan media bagi usaha pengembangan masyarakat yang bersifat produktif agar dapat mendorong aktivitas ekonomi pedesaan. 

Alternatif lain yang patut dicoba adalah dengan pengadaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Hasil Focus Group Discussion (FGD) saya bersama Bapak Iskandar B. Kuntoadji (Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan), yang menjelaskan bahwa pengadaan PLTS lebih banyak memakan biaya dibanding PLTMH. Ditambah lagi banyak masyarakat yang hanya menjadi penonton proyek pemerintah ini. Hasilnya, beberapa kampung tak lagi menggunakan PLTS bantuan pemerintah karena telah rusak dan tak murah perawatannya. Tentunya hal ini patut dipertimbangkan lebih lanjut.



PLTS yang tak banyak difungsikan di Kampung Fafanlap, Misool Selatan, Papua Barat


Kedua, partisipasi dunia usaha dalam pembangunan berkelanjutan adalah dengan mengembangkan program kepedulian PT PLN kepada masyarakat di sekitarnya yang disebut tanggung jawab perusahaan/ Corporate Social Responbility (CSR) sebagai salah satu upaya untuk menciptakan dan memelihara keseimbangan antara fungsi-fungsi sosial. Tentu kita sudah tak awam lagi dengan CSR. PT. PLN tentu memiliki unit di Papua bersama CSR-nya. Idealnya CSR PT PLN bukan sekedar urusan kepedulian sosial, melainkan upaya PT PLN secara sadar untuk meningkatkan potensi masyarakat serta lingkungan tempat beroperasi demi menunjang eksistensinya dan yang lebih penting lagi kehadiran PT PLN tidak hanya menjadi tetangga yang baik dengan masyarakat sekitar, tetapi bagaimana PT PLN membantu masyarakat untuk menciptakan sendiri sumber penghidupan baru, sehingga kelangsungan hidup masyarakat dapat dipertahankan. 

Dua hasil pemikiran inilah yang saya coba untuk diusulkan dan saya bungkus untuk diberikan kepada PT PLN yang telah menggenapkan usianya ke-69. Tak ada maksud menggurui ataupun mengkritik atas kinerja yang telah berjalan selama ini. Tentunya, banyak harapan yang bersumber dari buah pemikiran khalayak luas dalam kontes yang menggiur peserta untuk menjadi seorang jutawan ini. Tulisan ini mencoba menghasilkan sebuah refleksi bagi kita semua, entah bersifat kaku untuk dibaca, namun menjadi tantangan bagi kita semua untuk perkembangan kelistrikan di Indonesia. Selanjutnya, tentang apa yang dinyatakan di sini bukanlah hasil pemikiran yang menempatkan PT PLN sebagai alat yang bersifat super power untuk membuat Indonesia terus terang (seperti banyak yang telah saya baca atas kritik terhadap jadwal pemadaman listrik oleh PT PLN). Tentu kita tak bisa menempatkan PT PLN sendirian saja mengatasi permasalah nusantara. Perlu dipahami, hal yang lebih penting adalah kesungguhan akan pemerintah atau siapa pun untuk menyusun kebijakan, program dan perubahan positif bagi kehidupan masyarakat, khususnya penerangan hingga pelosok pulau di Indonesia.

NB : Tulisan ini juga hasil refleksi perjalanan sembilan kampung (Fafanlap, Harapan Jaya, Usaha Jaya, Yellu, Kayerepop, Dabatan, Belakang Harapan Jaya, Lilinta dan Gamta) di Misool Selatan, Papua Barat.


PLN, Kini kami berharap padamu, Untuk Papua

Terimakasih
Hannif Andy Al Anshori
(Pariwisata UGM – Koordinator Mahasiswa Unit KKN PPM UGM Unit Fafanlap, Papua Barat).

Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi (2014)
Daftar Pustaka
IBEKA. Modul Manual Pembangunan PLTMH 

Narasumber : 
Iskandar B. Kuntoadji (Board of Trustee - People centered Business and Economic Institute)

Daftar Laman
http://hanifjava.blogspot.com/2014/09/kawan-singgahlah-ke-kampungku.html

NB : Tulisan ini menjadi pemenang dalam lomba "Ideku Untuk PLN" dari 1000 lebih artikel. Selengkapnya di http://blogdetik.com/2014/10/24/ini-dia-pemenang-lomba-blog-ideku-untuk-pln/


Total comment

Author

Hannif Andy Al Anshori

0   komentar

Cancel Reply