Formulir Kontak

 

Perahu Miniatur Buah Tangan Bang Syam




Syamsudin Loji. Begitu yang kutahu namamu. Jabat tangan pertama kita bermula di dermaga Fafanlap. Tepat saat itu pukul 23.00 WIT. Kulihat hanya api puntung rokokmu yang cukup jelas malam itu. Sisanya, suaramu yang serak basah tak dapat menggambarkan jelas wajahmu. Dinginnya malam terasa menusuk memang. Tapi aku biarkan ceritamu menghangatkan suasana kita. Hanya berdua saja. Biarkan lainnya tertidur pulas dan bermimpi indah. Sedangkan kita? Kupastikan dirimu adalah orang teramah yang pernah kutemui.

Masih pagi sekali. Aku dengan kesibukan remeh temehku di pondokan, seorang pemuda datang menghampiriku dan memberikanku sebuah bros bertuliskan UGM. Aku tak pernah tahu ia sebelumnya. Dan kupastikan ia salah orang. Namun dugaanku salah. Ia adalah Syamsudin Loji. Pemuda yang kemarin menemaniku menghabiskan malam di dermaga. Ia mengukir bros itu semalaman untukku. Bros tanda pertemanan pertama. Bagaimana kau tahu mahasiswa yang kau temui semalam adalah aku? Malam itu terlalu sulit ditembus mata. Bahkan aku tak jelas memandangmu. 

Aku memanggilnya dengan sebutan ‘Bang’. Lebih tepatnya Bang Syam. Uniknya dirimu sangat berbeda dengan masyarakat Kampung Fafanlap kebanyakan. Kulihat seni mengalir pada jiwamu. Pantas saja, kau lihai bermain piano, pandai mengukir kulit kerang, enak dalam bernyanyi bahkan berpuisi. Padahal, aku berniat untuk mengajar bermain piano. Lupakan saja tentang niatku itu. Kau lebih lihai mengajak jemarimu untuk bermain piano. 

Lain halnya saat bekerja. Kau begitu cepat dan sangat ringan tangan. Tanganmu keras tak pernah pegal kerja banting tulang. Biar seni melekat pada jiwamu, tapi kau tak pernah mengeluh dan absen jika aku libatkan dalam pekerjaan lain. Jika malam tiba, sudah semestinya kau gunakan untuk istirahat. Tapi tak pernah juga kulihat dirimu yang absen di malam hari. Kau biarkan aku bernostalgia pada era Siti Nurbaya bersama lagu-lagumu. Bahkan sesekali kau mengubahnya menggunakan bahasa Misool. Sederhana sekali bahasanya. Aku merasa menjadi tamu yang puas atas jamuanmu. Rumahmu yang sederhana mampu membuatku betah berlama-lama di sana. 

Tak hanya itu. Bahkan kau pernah membuat teman-temanku berlomba untuk mendapatkan hadiah darimu. “Saya sudah siapkan sesuatu untuk satu orang yang fokus pada programnya”, begitu ucapmu. Aku pernah berpikir bahwa pastilah bukan aku yang akan mendapatkannya. Aku mengira hadiahmu jatuh pada salah satu temanku, Ihya Ulumuddin atau Oky Suryana yang lebih fokus dengan kerja ototnya membuat papan nama/ plangisasi. 

Pernah juga aku berlagak sok intelek di hadapanmu. Menjadi seorang surveyor dengan puluhan pertanyaan yang membuat pertemanan kita dirasa menjadi kaku. Kau yang biasanya mengajakku bercanda, giliranku mengajakmu serius dengan menjawab persoalan inventarisasi produk kreatif. Kau tertawa dan aku pun demikian. Tak pantas kita menjadi orang yang serius juga patuh prosedural. Kubiarkan curhatanmu menghantam batas waktu wawancaraku. Dan yang kutahu, kau adalah orang yang semangat berkarya dan mau mengubah nasib. 

Inventarisasi produk kreatif di Fafanlap sudah lebih dari 20 industri rumah tangga. Sengaja aku mendata untuk diikutsertakan dalam pameran akbar Fafanlap Fair 2014. Acara termegah sepanjang sejarah di Kampung Fafanlap, begitu kata banyak orang. Lebih dari puluhan industri kreatif juga makanan khas dan tarian tradisional dipamerkan dalam satu hari. Tapi, tak kulihat satu pun produk kulit kerangmu yang ikut dipamerkan. Dan yang kutahu, kau tak ikut hadir pada Fafanlap Fair 2014. 

Baru menjelang maghrib tiba, kau hadir di tengah suasana bongkar tenda. Kau menunjukkan Maha Karyamu yang dinamakan perahu Fafanlap Fair. Banyak pemuda di sana yang kagum atas hasil karyamu. Rasanya, ingin aku membelinya. Tapi kau tak menjualnya. Kau membuatnya semalam suntuk sampai tak sempat hadir di Fafanlap Fair. Aku terharu. 

Sabtu, 30 Agustus 2014. Kapal Fajar Indah telah datang menjemputku dan tim. Memang seperti mimpi. Baru Sabtu kemarin aku tiba di Fafanlap, hari yang bernama Sabtu itu datang kembali menjemputku. Bukan hanya aku dan teman-teman saja yang berat meninggalkan kampung. Bahkan seluruhnya tak rela melepas kami. Aku tak lagi menjadi pemerhati siapa yang aku peluk dan siapa yang memeluk. 

Ketika aku telah berdiri di atas kapal, ku dengar kau berteriak memanggil-manggil namaku. Bersama si kecil Leha dan Ibunya yang juga ikut mengambil alih perhatianku dari kebanyakan orang yang melambaikan tangan. “Mas Haniffff !!”. Spontan aku berlari turun menyusuri tangga kapal. Belum sampai aku menginjakkan kaki di anak tangga, aku di hadang oleh pemuda Fafanlap yang kau titipkan sebuah miniatur perahu Fafanlap yang kau buat semalam suntuk. Inikah hadiah yang kau janjikan itu? Teruntuk salah satu mahasiswa yang fokus pada programnya (kukira aku tak masuk kategori). Atau dengan kriteria lain? 



Sampai saat ini hadiah terindah darimu masih terpasang gagah di kamar kosku. Biarkan perahu ini menjadi perahu mimpi kita berdua. Tentu aku masih ingat beberapa mimpimu, Bang Syam. Aku tak pernah lupa tentang pertemuan dan perpisahan romantis kita. Saat kita berpisah, kau memintaku menunjukkan di mana letak Pulau Jawa dalam peta yang kubawa. Kau pun tersenyum semangat pagi itu. Terbilang dekat katamu. Semoga mimpimu berlabuh ke Pulau Jawa dapat segera terwujud. Dan semoga kita dapat bertemu kembali, nanti ataupun esok. 



Total comment

Author

Hannif Andy Al Anshori

0   komentar

Cancel Reply