Formulir Kontak

 

Terimakasih Sahabat Misool

Banyak hariku yang hening seketika pasca kepulanganku dari timur. Sederet tugas yang ditunggu hasilnya juga kubiarkan acuh begitu saja. Aku merenung dan ingin rasanya cepat melupa. Beruntung aku selalu disibukkan dengan perjalanan yang menurutku adalah bagian dari ilmu. Aku pun enggan pulang sebelum mengabadikan perjalanan panjangku. Berlagak pamer di hadapanmu hingga terlintas pikirmu akan tak bermanfaatnya waktuku. Terserah saja. Segalanya adalah pelajaran untukku. Perjalanan bagiku adalah menggapai cakrawala. Di hadapanku masih tetap ada jalan, masih tetap ada jarak, masih tetap ilusi, dan fantasi tentang kata ‘jauh’. Kau sadar? Kita pernah melakukan perjalanan jauh ke Papua. 

Tak disangka. Satu, dua, tiga bulan telah kita lalui dengan hitungan yang cepat. Pagi dan malamku selalu menjelma menjadi nostalgia wajah-wajahmu. Tahukah kau? Seberapapun hariku habis bersama rutinitasku. Tak lega rasanya jika aku tak pernah berucap terimakasih padamu. Jangan pernah enggan untuk bertemu denganku kawan. Maafkan aku jika memang sesekali aku pernah menikam pedas lewat tingkah dan ucapku.

Orang Tiongkok menyebut ini sebagai yuanfen, kita mengenalnya dengan perjodohan. Atau bahkan menyebutnya takdir. Setiap pertemuan dan perpisahan itu sudah ada yang mengatur, sudah menjadi guratan nasib. Benarkah? Ah semoga saja kita tak pernah berpisah.




Maaf, jika selama ini aku merasa kaku dalam memimpin perjalanan panjang ini. Tak biasa aku memimpin orang-orang hebat sepertimu kawan. Bolehkah aku sebutkan satu persatu dari namamu? Ali Fatha Seknun (Perikanan), Ari Akbar Devananta (Perikanan), Minuk Kusmia (Biologi), Abrory Agus Cahya Pramana (Biologi), Habib Sebastian (Kimia), Oky Suryana (Statistika), Irfan Islami (Pertanian), Rachmad Hidayat (Peternakan), Latifah (Peternakan), Mba Denok Asih Triranti (Kedokteran Hewan), Agam Gumawang (Teknologi Pertanian), Warizmi Wafiq (Geografi), Ihya Ulumudin (Teknik Mesin), Mukharrir (Teknik Industri), Fahmi Restu Fuadillah (PSdK), Mas Arif Nurhayanto (Psikologi), Mba Sonia Mahrudin (Keperawatan), dan yang terakhir adalah Rizki Arisonya (Kebidanan).

Dokumentasi adalah saksi dari awal sekaligus akhir perjalanan panjang. Aku merayapi satu per satu kenangan kita. Kapan kita dapat ke sana lagi? Aku tak tahu bagaimana cara menjawab. Semua tak ada yang tahu. Semua hanya bisa menunggu datangnya waktu. Mimpi tentang pemandangan surga Raja Ampat ini tetaplah menjadi mimpi dalam penantian. Berbual soal mimpi memang tak ada habisnya bukan? Bahkan kau dan aku bersepakat dalam lisan untuk dapat ke sana lagi. Menjadi Sahabat Misool yang terus mengabdi. Bawalah listrik, perbaikilah sekolah, ajarkan agama. Memang tugas ini terasa berat bagi kita yang bukanlah apa-apa. Coba ingat-ingat kembali. Dulu kita pernah merasakan nasib yang sama. Keberangkatan yang tak didanai sampai terbelit utang piutang. Menangis di pelataran Graha Sabha karena tak kunjung mendapatkan dana. Berjalan jauh menyurusi lorong-lorong Solo dan Jakarta. Kita bahkan pernah berjualan camilan di sekitaran kampus Gadjah Mada. Untungnya tak seberapa habis juga untuk prasyarat administrasi. Mungkin yang tak pernah terlupa, kita pernah membuat pilihan antara membubarkan diri dan melanjutkan keberangkatan. Cobalah sekali lagi kita hitung personil kita. Hanya 19 orang. Jauh daripada minimal yang ditentukan panitia. Bahkan perjalanan kita pun terbilang berpetualang. Saling kejar antara waktu dan bentak si kondektur kereta ekonomi Surabaya. Kita pun berubah menjadi superhero yang berlagak tak kenal lelah. Saling rebutan angkat perlengkapan dan barang bawaan. Kita juga pernah tidur di lantai yang dingin tanpa alas di bandara Djuanda. Beruntung aku tak pernah mendengar ada yang mengeluh kedinginan. Lihat saja. Diantara malam yang kita lewati kadang juga menjadi malam yang menyeramkan. Dimana ada salah satu teman kita yang penglihatannya sampai batas dunia manusia. Hahaha. 







Masih tentang perjalanan. Sudah berapa mil kita lalui untuk menikmati panorama alam? Tak tanggung-tanggung, kita nekat melewati ombak setinggi orang dewasa untuk mencari dana di beberapa perusahaan mutiara. Pastinya juga kita tak pernah lupa. Tentang perjalanan yang kita namakan Aksi Untuk Palestina. Sudah berapa kampung yang kita lalui? Masyarakat yang awalnya asing melihat wajah kita, kini dengan senang hati memeluk kita. Bahkan, aku masih mengingatnya. Pemuda Yellu yang tak ku kenal namanya menangis di pelukanku. Tak kalah serunya ketika kita melawan dingin di atas katinting pada pukul 00.00 WIT malam. Hebatnya, kita berhasil mendapatkan dana sebanyak dua belas juta lebih untuk Palestina.





Dan yang satu ini, pasti kita tak pernah lupa. Acara yang konon menjadi even termegah sepanjang sejarah di Misool, Fafanlap Fair. Belum habis waktu pengabdian, tangisan pecah di akhir acara Fafanlap Fair. Tahukah penyebabnya? Ya, kita menyanyikan lagu ‘Sayonara’. Saat itu kita hanya bisa tertawa. Waktu yang masih tersisa beberapa hari telah membuat mereka berat melepas kita. 

Sudahlah. Tak ada habisnya cerita ini jika mau dituliskan. Usahlah membeli kanvas untuk terus melukis kenangan kita. Kutunggu giliranmu kawan !

*Tulisan ini dibuat dalam rangka satu tahun tim KKN PPB 01 (Sahabat Misool) yang terbentuk pada akhir November 2013 lalu.





Total comment

Author

Hannif Andy Al Anshori

0   komentar

Cancel Reply