Formulir Kontak

 

Teruntuk Kekasihku Sahabat Misool

Lama aku tak bertegur sapa denganmu, sahabat. Lewat pesan singkat kemarin yang tak juga kau balas, aku putuskan untuk berkirim surat saja. Begitu sulitnya aku mendapat kabar darimu. Pesan yang dikirim sekarang, bisa saja masuk tiga hari setelah aku mengirimnya. Adanya provider yang terkesan setengah hati hanya menempatkan BTS di kampung tetangga, membuat kita saling tunggu kiriman pesan. Bolehkah aku memanggilmu sahabat? Untukmu adik-adikku di Kampung Fafanlap, Misool Selatan. Semoga kau berkenan.




Ketika itu adalah bulan Januari 2014, tepat tulisan ini bermodal dari ingatan yang genap berusia satu tahun. Ada rasa takut ketika aku pertama kali mendatangi rumahmu satu persatu. Tak puas dengan semua itu, kau ajak aku mengunjungi tempatmu menuntut ilmu. Bangunan di pojok kampung yang hampir rusak dimakan usia itu kau sebut dengan nama sekolah. Kau berusaha meyakinkanku dengan uluran senyum yang melengkung di bibirmu. Kau berlarian melewati tembok-tembok dinding kelas yang harusnya itu adalah pembatas ruangan kelas. Tapi sengaja dibuat berlubang agar Pak Guru dapat mengawasi semua kelas. Aku bertanya dalam hati, apakah kau tak pernah berkeluh dengan keadaan semacam ini? Saat itu, datang juga seorang guru agama padaku. Seorang diri bertugas mengampu enam kelas karena sekawanan guru lainnya yang mendapat tugas dinas di Kota Sorong. Pak guru pun tersenyum begitu ia tahu bahwa aku seorang mahasiswa beralmamater kampus ‘ternama’ di Yogyakarta. Membiarkanku membuat kesimpulan sendiri tanpa harus ia ceritakan segala peluh dan tetesan keringat selama pengabdiannya sebagai guru.




Di SMP lebih beda lagi. Dengan genangan lumpur di sekitaran sekolah, kau masih bisa merasakan nyamannya menuntut ilmu. Di sini kau lebih kreatif. Kudengar ada yang bercita-cita ingin menjadi dokter, tentara, guru, ulama, dan artis. Lagumu bukan lagi lagu anak-anak yang biasa dinyanyikan saat menghafal nama hari dan angka. Hafalanmu adalah rumus matematika yang diajarkan Pak Guru dari waktu ke waktu. Berbekal buku hitam putih hasil foto copy yang hanya bisa didapatkan di Kota Sorong.

Saat ini kau juga telah mengenal apa itu visi misi. Berdebat dengan calon pasangan lain yang mencoba menempati organisasi OSIS di sekolahmu. Kau telah mengenal apa itu panggung demokrasi dan cara lobi. Jika dulu, suaramu yang merdu selalu diminta untuk bernyanyi kelas. Tapi kali ini, suara lantangmu lah yang dinanti di kelas-kelas.




Semakin dewasa, ada kursi baru untukmu di SMA GUPPI. Bahkan tugasmu bukan lagi setumpuk lembar kerja siswa dari sekolah. Namamu juga terlihat makin masyhur dalam mewakili sekolah di panggung-panggung acara kedinasan. Berbekal pengetahuanmu dalam pramuka, kau pun diundang mengikuti acara jamboree. Tak ada yang mengatakan ini adalah tugas yang mudah. Bahkan kau harus membagi waktu sembari membantu orang tua dan adik-adikmu dalam mencari makan nanti. Otot dan uratmu semakin dewasa semakin membesar. Kerasnya hidup yang dilengkapi dengan kerja banting tulang agar kau dan keluargamu tetap bisa hidup enak di sana.

Tentu kalau boleh jujur, ada rasa iba pada diriku melihatmu, wahai sahabat. Aku, dan kuyakin juga teman-temanku merasakan keinginan yang sama untukmu. Agar kau bisa merasakan kenikmatan dan kemudahan mengakses ilmu di sekolah-sekolah yang kini kau tempati. Dengan fasilitas dan gedung sekolah yang membuatmu betah duduk seharian. Dengan buku-buku bacaan yang selalu kau butuhkan dan memudahkanmu dalam ujian. Dengan pakaian-pakaian baru yang tak lagi kusam warnanya. Dengan sepatu baru agar tak lagi kakimu lecet terkena pecahan kaca saat bermain di sekolah. Dengan pensil warna dan buku bergambar agar kau bisa belajar memadukan warna kehidupan. Dan juga dengan guru-guru yang tak lagi merangkap dalam mengajar di sekolah.

Ah… Mari kita akhiri saja cerita yang terkesan berkeluh kesah ini. Pesanku padamu, wahai sahabat. Janganlah puas pada capaian hari ini. Ada kelebihan darimu yang belajar banyak dari alam. Hiruplah udara petualangan yang selama ini kau gunakan dalam menangkap ikan, menyelam, dan bermain bola. Bukumu bukan lagi buku pelajaran yang diberikan Pak Guru di sekolah. Bukumu adalah pengalaman panjang tentang proses menjadi lebih baik. Aku bangga padamu yang tetap mau berangkat ke sekolah. Mencari guru yang bisa mengajar menggantikan guru yang berhalangan. Menggunakan malam untuk membaca di Sanggar Belajar meski hanya bermodal pelita sebagai penerang.

Teruslah belajar untuk menjadi lebih baik, wahai sahabat. Agar kau bisa membangun kampungmu lebih dulu tanpa menunggu kedatangan orang-orang hebat dari penjuru negeri. Memang dua bulan kemarin adalah waktu yang singkat bagi kita untuk saling kenal dan bertukar ilmu pengetahuan. Bahkan aku tak bisa berjanji datang kembali meski kita pernah bersepakat dalam ucapan. Terbatasnya biaya bukanlah alasan yang tepat untuk bertemu dan bertukar ilmu bukan? Tak masalah bagiku biayanya berapa. Tapi sebelum aku dan teman-temanku ke sana. Aku ingin mendengar kabar prestasi darimu. Apapun itu. Baru-baru ini kudengar ada empat alumni GUPPI yang mendapatkan beasiswa Bidik Misi perguruan tinggi di Makasar. Status facebook mu juga menunjukkan kau tak lagi cukup puas belajar di satu kelas. Ingat, jangan pernah puas atas capaianmu kemarin dan hari ini. Usahlah untuk terus menjadi lebih baik dengan budi pekerti yang baik agar cepat tertunaikan cita-citamu. Terlibatlah secara aktif dalam kehidupan sosial di kampungmu.

Terimakasih ku padamu, wahai sahabat. Perjalanan kemarin sungguhlah media belajarku menambah cakrawala. Tugasku dan tugasmu masih belum selesai. Kuakhiri suratku dengan perkenalan pada sekawanan barumu yang kelak juga akan belajar bersamamu, Sahabat Misool. Semoga kau bisa sedikit tersenyum dan lega atas surat yang kukirim untukmu. Ceritakan pada kampungmu bahwa aku dan teman-temanku selalu mengingatmu.


Yogyakarta, 5 Januari 2015

Kekasihmu,

Hannif Andy Al Anshori







Total comment

Author

Hannif Andy Al Anshori

0   komentar

Cancel Reply