Formulir Kontak

 

Satu Sekolah, Enam Kelas, dan Satu Guru


Harapan Jaya. Sebuah kampung yang terletak di Misool Selatan, Kepulauan Raja Ampat. Kampung yang sangat menawan dan elok dengan pemandangan pantai yang bersih lagi berpasir putih. Kampung ini juga menjadi tempat transit wisatawan domestik dan mancanegara dalam berwisata. Kampung yang panjangnya tak lebih dari 2km garis pantai ini hanya memiliki satu sekolah saja. SD Negeri 19 Harapan Jaya namanya. Tak ada lembaga formal lain untuk menempuh pendidikan lanjutan seperti SMP dan SMA/K. 

Pak Hanafi Sapua

Saat berkunjung di SD Negeri 19 Harapan Jaya, hanya ditemui seorang guru yang sibuk membereskan sisa kapur tulis dan tumpukan buku-bukunya. Pak Hanafi namanya. Seorang guru agama yang juga merangkap mata pelajaran lainnya demi mewujudkan cita-cita Republik Indonesia dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. 


Sebenarnya, guru di SD Negeri 19 Harapan Jaya berjumlah empat orang. Tiga orang mengajar agama islam dan satu lagi menjabat sebagai kepala sekolah. Namun sayang, guru lainnya beserta kepala sekolah kerap berkunjung ke Waisai karena tugas dari dinas. Sisanya, hanya Pak Hanafi seorang diri yang merangkap semua mata pelajaran dan mengajar di enam kelas. 

Jumlah guru yang mengajar di SD N 19 Harapan Jaya


Selain menjadi guru agama dan mata pelajaran lainnya. Pak Hanafi Sapua, yang diketahui kelahiran Kampung Fafanlap pada 10 November 1967 ini juga bertugas sebagai karyawan tata usaha dan bertanggung jawab atas keamanan sekolah. Membunyikan lonceng, mengunci pintu kelas, memastikan murid-muridnya masuk sekolah, juga urusan-urusan kecil lainnya seperti merawat tanaman sekolah dan menghapus tulisan di papan.


Tak sempat berpikir bagaimana cara Pak Hanafi seorang diri mengajar enam kelas. Saya pun melihat langsung kondisi ruang belajar mereka. Tembok-tembok kelas yang sengaja dibuat menggunakan papan ternyata juga sudah diberi celah pintu sebelumnya. Di antara kerumunan murid dapat saling mengintip dan mendengar apa yang terjadi di kelas sebelahnya. Celah-celah pintu yang harusnya menjadi tembok inilah yang dimanfaatkan Pak Hanafi dan guru lainnya untuk menghemat waktu berpindah dari kelas satu ke kelas lainnya. Singkatnya, saat kelas 1 telah selesai diberikan materi pelajaran yang kurang lebih 15 menit lamanya, Pak Hanafi pindah ke kelas 2, dan terus berjalan masuk ke kelas lainnya sampai berada di paling sudut kelas 6. Jika ada keributan atas ulah murid-murid, Pak Hanafi berpindah lagi. Jika ada seorang murid yang berteriak diganggu temannya, Pak Hanafi berpindah kelas. Sampai jam menunjukkan angka 10.00 WIT, barulah ia bisa istirahat.

Kondisi ruang kelas di SD N 19 Harapan Jaya

Ada lagi yang menarik. Terakhir kali berkunjung ke Kampung Harapan Jaya pada Agustus 2014. Beberapa murid SD Negeri 19 Harapan Jaya tak kenal siapa wakil presiden Republik Indonesia. Wajah Pak Kalla saat itu masih dipasang di beberapa kelas. Entah lupa atau tak memiliki foto Pak Boediono, saya tak menanyakannya lebih lanjut. Mungkin bagi mereka, seorang Pak Hanafi Sapua adalah pemimpin dan pahlawan di SD Negeri 19 Harapan Jaya yang lebih pantas dipasang fotonya. Mungkin bagi mereka, juga tak penting siapa presiden dan wakil presiden Republik Indonesia. Bahkan seorang menteri pun tak pernah menengok sekolah dan keadaan mereka. 

Foto Pak Beye dan Pak Kalla di sudut kelas pada Juli 2014


Suara anak-anak Papua

Satu sekolah, enam kelas, dan satu guru. Begitulah keadaan sebenarnya. Potret Indonesia yang jauh dari keadaan sejahtera. Kata sejahtera masihlah menjadi dongeng manis bagi kebanyakan masyarakat yang jauh dari ibukota, di pelosok desa, di pedalaman pulau, di Papua. 

Penulis bersama Pak Hanafi dan putrinya

SD Negeri 19 Harapan Jaya

Total comment

Author

Hannif Andy Al Anshori

0   komentar

Cancel Reply