Formulir Kontak

 

Menjadi Mahasiswa Pariwisata, Harusnya Bangga

Menjadi seorang mahasiswa pariwisata adalah suatu kebanggaan. Bagaimana tidak? Tiga tahun ini, Program Studi Pariwisata menjadi pilihan favorit di UGM. Pariwisata juga sebagai sektor terandalkan untuk pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bahkan sekolah-sekolah sudah dikhususukan untuk mencetak para pakar/pekerja bidang pariwisata, mulai dari tingkat menengah kejuruan (SMK), vokasi, perguruan tinggi, dan bahkan lembaga khusus pelatihan. Namun sayang, banyak dari kita yang memandang sebelah mata jurusan ini. 

Tulisan ini dibuat bukan untuk curahan hati saja, melainkan pesan kepada diri saya maupun kepada pembaca yang sedang menempuh studi di jurusan pariwisata untuk bangga diri dan terus mengembangkan kualitas diri. Perjalanan panjang saya dimulai dari apa yang dinamakan ‘pengalaman’. Kembali soal pekerjaan, sebenarnya sangat banyak yang menantikan orang-orang pariwisata. Jika kemarin kita hanya berpikir peluang kerja pariwisata hanya ada di perhotelan, travel agency, restoran, kapal pesiar, pemandu, pegawai di destinasi, dan yang paling bergengsi sebagai PNS di Dinas Pariwisata maupun Kementerian Pariwisata, mari kita tambah lagi, sebagai peneliti, akademisi, pengembang dan perencana, konsultan, penulis, CSR perusahaan pengembang pariwisata, atau pengambil kebijakan lainnya. Dari sekian banyak pekerjaan yang sebenarnya membutuhkan kontribusi lulusan pariwisata ini, kita hanya berani menyatakan diri untuk mampu berkontribusi di sektor pelayanan saja. Sisanya, kita relakan pekerjaan ini pada orang lain yang bukan lulusan pariwisata.

Masuk di jurusan pariwisata tak melulu soal jalan-jalan yang diutamakan. Jangan merasa puas karena telah berkunjung ke luar negeri, jangan pula merasa puas dengan capaian nilai yang pernah didapat. Sudah sewajibnya, setelah purna dari sekolah, kita harus siap diterjunkan ke masyarakat, berkontribusi nyata untuk masa depan pariwisata, dan juga profesional dalam pekerjaan yang ada saat ini.

Sebelum terlambat, mari kita gunakan kesempatan ini melalui pengembangan diri. Hadirkanlah rasa tidak pernah puas telah mendapat ilmu di kelas, mari kita cari cara lain.

Pertama, jadilah traveler yang tak hanya suka jalan-jalan dan eksis di sosial media. Kita harus ingat, bahwa sekolah bukan hanya untuk mencari pekerjaan. Jadilah seorang traveler yang kritis menilai perjalanan, jadilah seorang traveler yang peka sosial, menjadi traveler yang memberikan contoh kepada para calon wisatawan, untuk senantiasa menjaga kelestarian lingkungan, menghargai adat istiadat lokal, memberikan dampak nyata positif yang dinikmati masyarakat di sekitar tempat wisata. Jadilah seorang traveler yang ‘mau duduk bicara’ bersama masyarakat pengelola. Dengan ini, kita akan banyak cerita tentang pengalaman, banyak catatan dari cerita masyarakat tentang jatuh bangun mengelola daerah pariwisata, dan membuka wawasan dengan mengadu pada teori-teori yang pernah didapat di bangku perkuliahan.

Kedua, berjejaringlah. Kuliah di jurusan pariwisata umumnya tidaklah sepadat kuliah di Fakultas Teknik maupun MIPA dengan setumpuk tugas praktikum. Sempatkanlah untuk berjejaring melalui organisasi kampus. Apapun itu cobalah mulai dari tingkat jurusan, fakultas, dan universitas. Pilihlah organisasi yang tepat dalam mengembangkan diri maupun bakat yang kita miliki. Silahkan rasakan manfaatnya ketika sudah purna dari kepengurusan.


Ketiga, jadilah peneliti. Mungkin dapat dikatakan sulit untuk menjadi seorang mahasiswa yang aktif penelitian. Pertama, mungkin karena tidak ada wadah bagi kita untuk terlibat dalam penelitian pariwisata. Kedua, mungkin banyak dari kita yang berpikir di awal bahwa pariwisata adalah ilmu hospitality dan jasa yang kemudian tak ambil pusing untuk terlibat dalam penelitian. Tidak demikian. Pariwisata kaya akan peluang-peluang penelitian. Lihat saja, ada berapa cabang ilmu di pariwisata? Mulai dari psikologi wisatawan, ekonomi, MICE, seni dan budaya, alam/ekowisata, industri kreatif, dan lainnya. Kita bisa membuat penelitian mandiri menggunakan dana hibah. Kita juga bisa melakukan penelitian dengan bermitra pada lembaga yang aktif melakukan riset, contohnya seperti Pusat Studi Pariwisata UGM, STUPPA Indonesia, Indonesia Ecotourism Network (Indecon), Swiss Contact, dan pastinya instansi pemerintah seperti BAPPEDA, Dinas Pariwisata, dan Kementerian Pariwisata akan membutuhkan kontribusi kita dalam penelitian maupun pengembangan pariwisata. Terbuka peluang besar untuk kita menjadi seorang peneliti bidang pariwisata.


Keempat, mulailah dengan Job Training. Bagaimana kita menggunakan waktu saat libur panjang? Pulang ke rumah, bermain, atau program penggemukan badan? Mulai dari sekarang, gunakanlah waktu libur panjang kita untuk menuntut ilmu langsung di lapangan bersama para praktisi-praktisi pariwisata. Mulailah dari Job Training sebelum kita benar-benar memasuki dunia pekerjaan. Hematnya, Job Training adalah latihan bekerja, sejenis magang/praktek kerja lapangan. Ambilah waktu Job Training satu sampai tiga bulan, rasakan sensasinya bagaimana kamu belajar menjadi seorang pekerja yang professional.


Kelima, ikuti kelas kajian, diskusi, seminar, dan sebagainya. Masih sama dengan pembahasan di atas. Jangan pernah jadi mahasiswa pariwisata yang puas pada ilmu yang didapat di kelas saja. Terlebih lagi bagi yang menuntut ilmu di Yogyakarta dan Bali. Keduanya adalah tempat yang di setiap sudutnya memiliki sumber-sumber keilmuan, khususnya bidang pariwisata. Jika masih kurang, buatlah kelas kajian/diskusi tematik pariwisata. Dari sini kita bisa belajar berpendapat, mengadu teori, merumuskan strategi, dan berpikir kritis.


Keenam, adalah menulis. Jika kau ingin menjadi penulis, maka menulis, menulis, dan menulis. Serutin apa kita menulis? Bukankah kita rajin traveling? Apapun bentuk tulisan kita, itu selalu bermanfaat. Entah tulisan seperti bentuk pengalaman, opini, maupun karya tulis ilmiah. Pada bagian ini, silahkan berikan pendapat ketika sudah menulis.


Ketujuh, ikuti kompetisi. Ini bagian yang saya sesalkan. Saya tidak memiliki banyak pengalaman menjadi pemenang dalam kompetisi pariwisata. Juara III Karya Tulis Ilmiah tingkat nasional adalah prestasi terbaik saya. Sisanya, hanya mengantarkan saya pada dewan juri saja. Perlu diketahui, banyak kompetisi pariwisata mulai dari KTI, perencanaan dan pengembangan, sampai tingkat StartUp bisnis pariwisata. Instansi/lembaga yang rutin mengadakan kompetisi pariwisata tingkat mahasiswa adalah Politeknik Bandung/UPI Bandung, Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, dan Web in Travel. Bukan hanya bidang pariwisata saja, cobalah untuk masuk ke kompetisi lain di bidang sosial, ekonomi, dan sebagainya.


Kedelapan. Penguasaan bahasa, khususnya Bahasa Inggris. Tak banyak yang bisa saya bagikan tentang pengalaman bahasa. Penguasaan bahasa adalah salah satu kelemahan saya. Pariwisata tidak bisa lepas dengan Bahasa Inggris. Menjadi pemandu? Butuh pemandu yang pandai Bahasa Inggris. Buku pariwisata? Sebagian menggunakan Bahasa Inggris. Traveling ke luar negeri? Harus bisa Bahasa Inggris. Namun semuanya tidak ada kata terlambat untuk belajar. All start is difficult, but no one too old to learn because knowledge know no borders.


Kesembilan, terjunlah ke masyarakat. Entah seperti apa minatmu sekarang. Tertarik bekerja untuk perusahaan atau masyarakat, yang jelas kita mesti terjun ke masyarakat. Ada banyak kesempatan belajar di sini. Mengikuti kegiatan Karang Taruna di desa, menjadi volunteer komunitas, lembaga kemanusiaan, KKN, voluntourism, dan sebagainya.

Itulah sembilan cara pengembangan diri yang diambil dari pengalaman saya sebagai mahasiswa pariwisata. Sekali lagi, saya bangga menjadi mahasiswa pariwisata. Bukan bermaksud menggurui dan menempatkan mahasiswa pariwisata menjadi mahasiswa yang ideal nan diidamkan. Terakhir, ini adalah rangkain dari proses belajar. Seperti apa yang disampaikan Imam Syafi’i, “Bila kamu tak tahan lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan”. Mari ambil peran!

Tabik!

Total comment

Author

Hannif Andy Al Anshori

0   komentar

Cancel Reply