Formulir Kontak

 

Sarjana Pariwisata yang Hobi Traveling

13 April 2015. Hujan deras yang datang siang itu membuat celana dan sepatu saya kuyup. Pukul 13.00 WIB saya akan dipanggil masuk ruang sidang untuk mempertahankan skripsi saya. Topik yang saya ambil pun ringan saja. Mengangkat pola pemberdayaan masyarakat dalam membangun pariwisata di sebuah desa. Tak ada ganti judul maupun penggunaan teori sejak saya putuskan untuk wisuda di bulan Mei. Ini adalah kedua kali saya menghadapi ujian pendadaran. Dan tak ada sekalipun rasa gugup maupun waswas pada penguji yang saya tebak sudah siap membantai isi skripsi saya.

Sesekali mahasiswa dan pegawai FIB yang saya kenal menyapa saya. Saya pun tak tahu apa yang harus saya pelajari saat detik-detik menjelang ujian. Saya tetap percaya diri karena telah hafal betul apa yang ada dalam skripsi yang tebalnya 148 halaman itu. Tak makan waktu lama, salah satu penguji pun mempersilahkan saya masuk ruang ujian.

“Apakah saudara siap untuk pelaksanaan ujian pendadaran?”. Saya pun mantap menjawab siap. Setelah menandatangani berita acara. Saya pun dipersilahkan berdoa oleh salah satu penguji.

Singkat punya cerita, judul skripsi saya adalah ‘Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Pariwisata di Desa Wisata Pulesari, Desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman’. Judul yang terinspirasi saat sedang mengikuti pelatihan peningkatan SDM Desa Wisata bersama Lembaga Ombusman Swasta DIY dan Pusat Studi Pariwisata UGM. Adapun bahasannya cukuplah sederhana. Tiga poin penting yang saya angkat dalam skripsi saya adalah pola pemberdayaan masyarakat yang berjalan, kendala yang dihadapi, dan merumuskan strategi pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.

Pariwisata di Desa Wisata Pulesari menjadi jalan keluar dari keterpurukan pasca dilanda erupsi Merapi 2010 yang hampir melumpuhkan sumber mata pencaharian masyarakat yang mayoritas adalah petani. Pariwisata pula yang tetap loyal menghidupi masyarakat hingga hampir 5 tahun bencana pergi. Semenjak diresmikan menjadi desa wisata, perlahan Dusun Pulesari dapat memulihkan segala kondisi, baik ekonomi, sosial, dan budaya. Keberhasilan Desa Wisata Pulesari sebagai salah satu desa wisata yang berprestasi masih mengalami kendala. Tak ada gading yang tak retak. Itulah kiasan yang kiranya dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi pariwisata di Desa Wisata Pulesari. Masyarakat yang selalu menanamkan nilai kebersamaan dalam mencapai tujuan masih kekurangan pengetahuan dasar tentang industri pariwisata yang seharusnya mereka kuasai. Itulah sebabnya saya rumuskan beberapa strategi pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.

Tak lama setelah itu. 45 menit berlalu dan saya dipersilahkan menunggu hasil ujian di luar. Beberapa teman dan adik kelas yang telah menunggu di luar cukup kaget karena saya menyelesaikan ujian pendadaran sangat cepat. Bahkan lebih cepat dibanding ujian pendadaran Diploma saya tahun 2013. 45 menit yang saya hitung sebagai akhir dari sebuah ujian meraih gelar sarjana. Dengan sopan, penguji mempersilahkan saya masuk kembali dan satu persatu menjabat mantap tangan saya. Ah, ini sudah jelas pertanda lulus bukan? Meski harus melalui tahapan revisi terkait cara penulisan dan analisis teori, itu sudah wajar dilalui semua mahasiswa yang IPK-nya 4 sekalipun.

Sumringah saya melangkah keluar menyeret tas saya yang berisikan 4 bendel skripsi. Berfoto ria dan tanya jawab persoal ujian pendadaran. Beberapa membawakan kado, coklat, bunga, bahkan mendoakan agar segera menikah. Itu nanti saja. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana cara menularkan semangat saya kepada teman-teman agar cepat selesai mengerjakan skripsi. Sangatlah menjadi masalah jika saja saya wisuda sendiri di bulan Mei. Oh ya, saya adalah lulusan pertama di kelas Pariwisata Alih Jenis angkatan 2013. 

Alasan saya untuk cepat lulus hanyalah dua. Pertama adalah cepat kuliah S2 yang saya tahu sekolah Pasca Sarjana UGM hanya membuka pendaftaran di bulan Juni. Dan persiapan beasiswa LPDP yang paling tidak memakan waktu tiga bulan.  Kedua adalah menghindar dari urusan administrasi UKT yang wajib membayar Rp4.200.000,00.

Meski sudah jauh berencana demikian, ternyata Allah SWT memberi jalan lain. Yudisium yang belum selesai urusannya, saya dikontrak Pusat Studi Pariwisata UGM dalam proyek pembuatan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat dari Juni sampai Agustus. Lebih serunya, saya diajak langsung ke lapangan.

Tak buru-buru dalam mengejar S2, saya pun tetap traveling. Ya bagaimanapun, saya pernah bercerita kalau traveling banyak membuka wawasan saya terlebih sebagai seorang mahasiswa pariwisata. Traveling juga yang membuat saya kaya dengan pengalaman menulis dan penelitian. Maka jika nanti saatnya tiba, di program S2 nanti saya pastikan telah memiliki bekal jejaring dan beberapa penelitian. Itulah prosesnya.

Di akhir tulisan. Ingin saya mengatakan beberapa hal yang kiranya bisa dijadikan nasihat untuk diri sendiri maupun orang lain. Ingatlah pesan dari Imam Syafii, “Bila kamu tak tahan lelahnya belajar, maka kamu akan merasakan pahitnya kebodohan”. Mari belajar bersama-sama. Banyak-banyaklah traveling, tapi bukan untuk ajang eksis di sosial media. Banyak-banyaklah traveling, untuk belajar langsung dari pengelola dan masyarakatnya. Banyak-banyaklah traveling, lalu tulis dan sebarkan itu. Banyak-banyaklah traveling, untuk memperkaya pengalamanmu. Banyak-banyaklah traveling, agar kamu pandai bersyukur.

Tabik !


Bersama Jama'ah Shalahuddin UGM

Bersama Imints Fasta, Penulis Novel "Berakhir di Malaka" dan "Cermin Jiwa"

Bersama JAVA UGM

Bersama Smart Community

Teman Sekelas yang Belum Pada Lulus :D

Bersama Reza Nurdiana - Insanwisata

Bersama Teman Sekelas yang Belum Pada Lulus :D

Bersama Alih Jenis 2013 dan 2014

Bersama Keluarga :) 

Bersama Sahabat Misool


Yeah. Terimakasih Kadonya :) 


Total comment

Author

Hannif Andy Al Anshori

0   komentar

Cancel Reply