Formulir Kontak

 

Pentingnya Berjejaring Bagi Mahasiswa Pariwisata

Belakangan ini saya geram melihat beberapa mahasiswa yang hanya puas dengan IPK tinggi namun nol pengalaman. Namun sebaliknya, saya cemburu dengan beberapa mahasiswa yang aktif di masyarakat tapi IPK nya rendah. Saya cemburu dengan beberapa mahasiswa yang bisa presentasi paper di luar negeri dan menyandang predikat sebagai mahasiswa berprestasi. Saya cemburu ketika melihat curriculum vitae beberapa mahasiswa yang kaya akan pengalaman organisasi, pemberdayaan masyarakat, penelitian, publikasi tulisan, walaupun dengan IPK yang pas-pas-an.

Habislah cemburu saya karena telah lulus dari Sarjana. Tak ada lagi kesempatan untuk memperbanyak pengalaman melalui penelitian, menulis, pemberdayaan masyakarat, aktif berorganisasi, dan apapun kesempatan yang dimiliki oleh mahasiswa.

Teringat dengan teman saya berkata demikian, “Susah juga kalau jadi anak pariwisata. Harus dekat sama masyarakat, pintar ngomong, dan punya jejaring yang kuat”. Jika dipikir-pikir, memang benar demikian harusnya. Saya pun memiliki pengalaman dimana saya harus melewati masa ke-cupu-an saya sebagai mahasiswa pariwisata. Yang diam tak banyak bicara jika penelitian. Yang hanya copy paste tulisan orang saat dapat tugas lapangan. Yang mau bikin tulisan kalau itu syarat mendapatkan nilai. Bak pecundang saja! Ya, saya pernah melewati masa-masa seperti itu.

Pernah suatu kali saat bermain ke beberapa tempat, saya memperkenalkan diri sebagai mahasiswa pariwisata. Tak lama kemudian, banyak pertanyaan dari masyarakat yang berharap saya dapat memberikan solusi akan permasalahan komunitas wisatanya. Pernah juga seorang guide curhat kepada saya masalah pariwisata dalam keadaan menangis. Saya pun diminta memberikan solusi. Nah, tentu kita hanya bicara masalah teori dan teori. Mereka tak butuh teori, mereka butuh solusi! Untuk itu, betapa pentingnya berjejaring, kadang pengalaman di lapangan lebih dihargai disbanding teori yang di lapangan.

Tulisan ini ingin mengupas dan membenarkan apa yang disampaikan teman saya, “Pentingnya Berjejaring Bagi Mahasiswa Pariwisata”. Perkenalan saya pertama dengan pariwisata adalah ketika saya mengikuti pelatihan dan sosialisasi pariwisata. Di sana saya berkenalan langsung dan mendengar cara masyarakat lokal mengelola pariwisata di daerahnya. Mereka sebut itu dengan nama POKDARWIS (Kelompok Sadar Wisata). Kata POKDARWIS beserta perannya jarang saya dapatkan saat di kelas. Saya yang gugup diajak diskusi perlahan mulai belajar berbicara, lalu mulai pembicaraan, sampai belajar menjadi pembicara.

Bersama Masyarakat Desa Wonokerto, Turi


Perkenalan kedua saya dengan pariwisata adalah ketika saya mengikuti program magang yang memang diwajibkan. Meskipun syaratnya hanya dua kali magang dan satu kali PKL. Saya mengambil tiga kali magang. Untuk apa? Tak lebih dari berjejaring dan mencari pengalaman. Di sini saya bisa kenal PHRI dan ASITA. Di sini juga saya belajar menjadi pemandu wisata. Di protes sana-sini oleh wisatawan. Kehilangan wisatawan yang keluar dari rombongan.

Perkenalan ketiga saya dengan pariwisata adalah ketika saya Praktek Kerja Lapangan di Pusat Studi Pariwisata UGM. Betapa besarnya harga sebuah kerja profesional di sini. Terhitung sejak Januari 2013 sampai tulisan ini dibuat, saya masih aktif di Pusat Studi Pariwisata UGM. Dan di sinilah saya dipertemukan dengan guru besar pariwisata seperti Prof. Dr. Ir. Chafid Fandeli, MS ; Prof. Dr.Phil. Janianton Damanik, M.Si ; Prof. Dr. M.Baiquni, MA ; Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, M.A., M.Phil ; dan bahkan beberapa mahasiswa S2 dan S3 yang sebelumnya tidak saya kenal. Sekali lagi, betapa besarnya harga sebuah kerja profesional di sini. Sejauh ini, sudah ada 7 riset saya dengan Pusat Studi Pariwisata UGM. 

Acara Sarasehan Desa Wisata bersama Mahasiswa S2 dan S3 Kajian Pariwisata (Fotografer: Hannif) 


Perkenalan keempat saya dengan pariwisata adalah ketika saya menulis. Lagi-lagi saya dipertemukan dengan teman-teman baru yang saya sebut mereka travel blogger. Bagi saya, mereka adalah duta wisata Indonesia yang rela tak dibayar untuk mempromosikan pariwisata Indonesia. Foto-foto mereka jugalah yang sering kita gunakan sebagai referensi sebelum kita traveling. Dari menulis, saya bisa menginap di hotel berbintang gratis. Dari menulis, saya bisa makan di restaurant mewah. Meskipun tak semua hotel menawarkan gratis, namun saya tetap menikmatinya. Dari menulis juga, saya bisa bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk mempromosikan pariwisata di tingkat Java Promo.

Review Hotel


Perkenalan kelima saya dengan pariwisata adalah ketika saya mengikuti kompetensi. Di sini saya bertemu dengan seluruh Co-Founder dan CEO startup pariwisata, tourism board, dan bahkan Manager Hotel sekelas Aston, Pullman, dsb. Sebut saja Traveloka, Airbnb, Wego, Booking, Panorama, Google, TravelMob, Tiket, dan startup lainnya, saya pernah diskusi langsung dan tukar kartu nama. 

Bersama Founder Wego - Graham Hills


Nah, apa pentingnya dari berjejaring? Tentu saja sangat penting. Bahkan sejauh ini saya masih merasa kurang dengan jejaring yang saya miliki. Penting bagi mahasiswa pariwisata. Apapun profesi kita, sebagai pengambil kebijakan maupun eksekutor lapangan, sangat penting berjejaring. Dari berjejaring kita akan diantar ke banyak tempat, diantar ke banyak pengalaman, diantar ke banyak ilmu, diantar ke banyak orang. Dan itu tidak akan pernah kita dapat di bangku kuliah.

Lihat saja, darimana saya mendapat pengalaman riset? Itu karena berjejaring. Bagaimana pula saya bisa masuk tempat wisata gratis, menginap di hotel gratis, dan makan di restaurant gratis? Itu juga karena berjejaring. Dan bagaimana bisa mendapat uang saku tambahan untuk bisa beli sebuah notebook, kamera, gadget? Itu juga karena berjejaring. Tapi janganlah ingat tentang enaknya berjejaring saja. Ada beberapa pengorbanan yang harus saya lakukan. Tentu semua ada prosesnya. Tak bisa instan. Yuk berjejaring dengan meninggalkan komentar di halaman ini.


Tabik !

Total comment

Author

Hannif Andy Al Anshori

0   komentar

Cancel Reply