Formulir Kontak

 

Kepedulian BNI Terhadap Pembangunan Manusia

Sejak 2010, saya adalah pemilik rekening BNI. Kemudahan yang diberikan BNI kepada pemegang rekening masih saya rasakan sampai saat ini. Beberapa kali menerima beasiswa dari kampus, masuknya juga melalui rekening BNI. Beberapa teman bahkan berjuang untuk dapat diterima sebagai pegawai/karyawan BNI. Di kota-kota besar seperti Yogyakarta contohnya, logonya selalu ikut terpasang di baliho-baliho acara. Di tulisan ini, saya ingin berbagi cerita melalui pengalaman-pengalaman maupun kisah perjalanan tentang apa yang saya temui dan apa yang telah diberikan CSR BNI terhadap pembangunan nasional, khususnya pembangunan manusia.  

Dengan mengusung misi meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat, sudah sepantasnya CSR menjadi perwajahan BNI dalam pembangunan yang berkelanjutan (sustainable). Pengalaman pertama saya mengenal CSR BNI adalah di Papua. Tepat selama dua bulan saya melakukan pengabdian di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Bukan hanya saya, ada sebanyak lima tim yang masing-masing terdiri dari paling sedikit 20 orang tersebar di kawasan Raja Ampat, Papua Barat. Sudah terbayang di bayangan kita bagaimana eloknya Raja Ampat yang juga menyandang nama sebagai Kabupaten Bahari. Secara faktual, industri pariwisata di Raja Ampat belum berdampak banyak pada pemerataan ekonomi masyarakat lokal. Di balik pulaunya yang mempesona dengan pasir putihnya yang indah, kondisi pendidikan sangatlah memprihatinkan. Jumlah murid tak sebanding dengan guru yang tersedia. Bangunan sekolah di beberapa kampung ikut rapuh di makan usia. Tak ada lagi pilihan bagi generasi muda di Raja Ampat selain membaca buku yang sudah kusam warnanya. Angka buta aksara yang masih cukup tinggi. Belum lagi kondisi fasilitas kesehatan, penerangan, dan lainnya. Ada rasa iba ketika melihat kondisi yang serba terbatas dan tertinggal.

Pengabdian di Papua Selama 2 Bulan. Dokumentasi : Hannif Andy Al Anshori

Perjalanan saya ke Papua Barat terhitung sudah tiga kali. Mulai dari pesisir sampai pedalaman, saya telah hafal kondisi pendidikan di sana. Dari sejumlah observasi lapangan, pendidikan masih menjadi masalah di Papua Barat. Dan sejak tahun 2013, saya menjadi pengamat setia komunitas Untuk Papua yang didirikan oleh Fajar Surya Budiman. Komunitas ini adalah output dari hasil Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat Universitas Gadjah Mada yang ditempatkan di Kampung Manyaifun, Waigeo Barat, Kabupaten Raja Ampat. Pendidikan adalah salah satu masalah di kampung ini. Maka tak lain, pendidikan adalah salah satu fokus program Untuk Papua.

Buku Jejak Kaki di Ujung Timu Negeri Manyaifun. Sumber : untukpapua.wix.com

Peserta KKN UGM Kampung Manyaifun. Sumber : Facebook Agam Budi Satria

Anak-Anak Kampung Manyaifun. Sumber : untukpapua.wix.com

Anak Manyaifun Sedang Menggambar. Sumber : untukpapua.wix.com

Pembuatan Rumah Belajar Dukungan Dari CSR BNI di Manyaifun. Sumber : untukpapua.wix.com

Pembuatan MCK di Manyaifun. Sumber : untukpapua.wix.com


Masalah pendidikan bukanlah urusan pemerintah saja. Masalah pendidikan bukan juga urusan guru atau pengajar. Semua harus ambil peran dalam mengurus masalah ini. Begitu kiranya yang dapat menggambarkan peran dari BNI untuk pengembangan kualitas pendidikan di Papua. Perhatian sosialnya sampai Bumi Cendrawasih cukup mengejutkan saya. Sebuah rumah belajar berdiri di Kampung Manyaifun dengan ratusan buku-buku yang tak lagi kusam warnanya. Keingintahuan anak-anak Manyaifun terhadap ilmu pengetahuan telah terfasilitasi oleh bantuan CSR BNI melalui kegiatan KKN UGM Unit Manyaifun.

Melalui program KKN UGM, saya katakan BNI sangat tepat menyalurkan bantuannya. Apa alasannya? Pertama, perencanaan program tersebut tentunya telah melibatkan komponen masyarakat desa melalui mahasiswa KKN yang ditempatkan di Kampung Manyaifun. Tentu peran komunitas lain (masyarakat lokal maupun akedemi misalnya) tidak boleh diabaikan agar dana yang digunakan tidak mubazir.

Tidak ada rencana pembangunan yang akan berhasil jika didesain hanya dalam waktu beberapa hari. Dua bulan adalah waktu yang sangat cukup untuk menanamkan rasa peduli masyarakat Manyaifun terhadap pendidikan sehingga nantinya mereka akan meneruskan serta merawat program yang telah berjalan. Selama ini, masih saja ditemui beberapa kasus pembangunan yang tidak melibatkan komunitas di sekitarnya. Menghabiskan anggaran demi bangunan fisik yang kiranya tidak dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Dengan pulangnya fasilitator pembangunan, ada beberapa program kemudian tidak berjalan. Namun tidak dengan BNI karena ada proses pembangunan masyarakat yang turut dikerjakan selama dua bulan melalui kegiatan KKN UGM. Kedua, adalah ketepatan program. Pendidikan adalah salah satu masalah di Papua. Di sinilah CSR BNI mengambil peran dengan ikut mendukung kegiatan KKN UGM Unit Manyaifun dalam pembuatan Rumah Belajar.

Komunitas Untuk Papua. Sumber : untukpapua.wix.com

Saya tak tahu persis, berapa angka pasti dukungan BNI terhadap pembagunan masyarakat di Kampung Manyaifun, Papua Barat. Lewat pengadaan Rumah Belajar, BNI ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Ada rasa senang ketika di setiap sudut-sudut kampung Papua, baik pesisir maupun pedalaman mulai berdiri rumah belajar. Bukan saja hanya fisik, namun kegiatan belajar mengajar terjalin di sana. Rasa senang mendengar telepon dari keluarga di Papua yang menceritakan anaknya telah pandai membaca dan berhitung karena telah terfasilitasi oleh Rumah Belajar.

Kedua, adalah pengalaman saya sebagai penikmat alam di nusantara. Di bidang pembangunan pariwisata, CSR BNI turut serta dalam mendukung pembangunan pariwisata di Kabupaten Gunungkidul. Melihat logo BNI terpasang di sebuah gapura pintu masuk  yang juga menjadi TPR membuat saya penasaran. Menurut informasi yang saya dapat, BNI bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, Java Learning Center, dan masyarakat Desa Bleberan dalam pengembangan ekowisata Air Terjun Sri Gethuk dan Gua Rancang Kencono yang berlokasi di Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Pembangunan kawasan ini mencakup revitalisasi dan penambahan fasilitas seperti pembangunan pintu gerbang Desa Wisata Bleberan dan obyek wisata Sri Gethuk, pembangunan kios pedagang (sebanyak 30), pengadaan perahu motor (1 buah) dan pelampung (100 buah), pengadaan gazebo (3 buah), pelatihan (capacity employee) dan pengelolaan wisata secara lestari, serta pengadaan tong sampah.


Bantuan Pengadaan Gazebo di Srigethuk Bantuan BNI. Dokumentasi : Wahyunis

Bantuan Pengadaan Kios di Srigethuk Bantuan BNI. Dokumentasi : Wahyunis

Bantuan Pengadaan Kapal Motor di Srigethuk Bantuan BNI. Dokumentasi : Wahyunis

Dampak adanya bantuan dari pihak CSR BNI ini pun terasa sangat bermanfaat bagi masyarakat pelaku pariwisata di kawasan Air Terjun Srigethuk. Menurut Wahyunis (22 tahun), rata-rata pedagang yang berjualan di kawasan ini merasakan kontribusi yang cukup besar bahkan lebih dari 64,2% dari total pendapatan. Hal ini juga nampak berbeda secara visual sebelum CSR BNI masuk menjadi bagian dari pembangunan pariwisata di kawasan Air Terjun Sri Gethuk dimana terjadi perubahan fisik loket masuk pada tahun 2015.

Loket Masuk Bantuan BNI Tahun 2015. Dokumentasi : Wahyunis

Loket Masuk Sebelum Adanya Bantuan BNI. Dokumentasi : Wahyunis

Sementara itu, di kawasan Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, saya sempat melihat beberapa mobil tangki besar berlogo BNI mengirim pasokan air bersih pada bulan Juli 2015. Kekeringan yang melanda kecamatan ini juga turut mengundang perhatian CSR BNI untuk membantu masyarakat Gunungkidul yang kekurangan air. 

Jika ditilik dari realisasi dana bina lingkungannya, di tahun 2014 lalu BNI telah mengeluarkan biaya yang cukup besar terhadap peningkatan kesejahteraan dan pembangunan manusia. Berikut adalah gambaran infografisnya.


Infografis Oleh : Hannif Andy Al Anshori

Dari pengalaman di atas, semuanya tidak akan berjalan dengan mudah tanpa bantuan, dukungan, dan perhatian CSR BNI yang memiliki tanggung jawab sosial terhadap pembangunan masyarakat di Indonesia. Program-program di atas adalah bagian dari bentuk komitmen berkelanjutan yang dibangun BNI untuk berperilaku etis dan berkontribusi pada pembangunan nasional sekaligus meningkatkan kulitas hidup masyarakat lokal dan masyarakat secara keseluruhan. Hal ini merupakan perwujudan budi baik (goodwill) perusahaan sebagai bentuk apresiasi kepada masyarakat.

Akhirnya, di penutup tulisan ini saya ingin mengucapkan rasa besar terimakasih dan juga selamat kepada BNI yang telah menggenapkan usia ke-69. Semoga di usianya yang semakin dewasa, semakin nampak kontribusi nyatanya terhadap pembangunan nasional. 

Ditulis oleh : 
Hannif Andy Al Anshori
Yogyakarta, 4 Agustus 2015 Pukul 20:37 WIB

Total comment

Author

Hannif Andy Al Anshori

6   komentar

Wah ternyata CSR nya BNI sampai ke pelosok negeri ya mas :)
memang seharusnya merata ya sampai ke ujung Papua sana ^^
Iya, saya pun juga kaget. Karena BNI bisa sampai sini.
Masyarakat sana pun baru kenal BNI. Selama ini kan hanya kenal bank daerah saja.
Wah mantap KKNnya ke Raja Ampat. Keren (y)
Semoga makin banyak orang yang bisa bantu Papua, bukan cuma BNI.
Iya. Aamiin Mba. Terimakasih Mba Zulfa sudah berkenan mampir ke tulisan saya
Ini keren ini.
Terimakasih mba sudah berkenan mampir

Cancel Reply